Sunday, 17 February 2019

Dear, Hari Kamis Malam Jumat!

Hari ini hari Kamis, seperti hari-hari biasanya kupikir. Tidak ada yang istimewa selain rutinitas biasa. Tapi, ternyata salah! Hari ini sangatlah menguras emosi dan tenaga. Aku bangun kesiangan pagi ini. Aku bangun tepat pukul 06.30, padahal seharusnya aku sudah berangkat ke sekolah. Tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari tempat tidur, menyambar handuk dan berlari menuju ke kamar mandi. Mandi dengan kecepatan yang luar biasa kupikir. Aku pangkas waktu mandi menjadi lima menit saja. Benar-benar sebuah kemampuan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlambat. Masih dengan kecepatan tadi, aku keluar dan berlari ke kamar. Berganti dengan seragam osis, sedikit berdandan ala anak SMA pada umumnya, juga tak lupa menguncir kuda rambut hitam panjangku meski tidak kusisir sama sekali. Untung saja shampo yang kupakai benar-benar seperti iklannya, membuat rambut halus dan mudah diatur. Selesai bersiap, aku langsung mengambil ranselku dan memasukan tempat pensil dan buku-buku pelajaran hari ini. Setelah itu aku berlari keluar, mengambil dua potong roti dan menggigitnya, memakai sepatu lalu mencium tangan ibu. Sepedaku yang berada di garasi depan langsung aku kayuh tanpa ba-bi-bu lagi. Aku menyusuri jalanan dengan kecepatan yang tak kalah seperti kasus di kamar mandi tadi. 

Foto milik Popmama

Nyaris terlambat! Aku berhasil melewati gerbang sedetik sebelum pak satpam menutupnya. Aku mendengar Ia sempat menggerutu karena beberapa siswa terlambat. Aku parkir sepedaku di tempat biasa dan berlari menuju kelas. Aku mungkin selamat melewati gerbang, tapi entah di kelas nanti. Mungkin guru fisikaku sudah berpidato di sana. Benar saja, aku masuk ke kelas tepat setelah Bu Delta, sang guru fisika, duduk di tempatnya. “Untung ya, kamu, Dian. Pak Basro tidak menilangmu di depan?” ucap Bu Delta seraya senyum manisnya. Sontak teman sekelasku menahan tawa. Aku yang disindir malah asik senyam-senyum tidak jelas. “Biarlah, yang penting udah sampe kelas”  batinku disela mengumpulkan tenaga kembali. Melakukan hal dengan cepat ternyata melelahkan juga. “Ayo keluarkan buku PR kalian. Kumpulkan ke depan.” Bu Delta menitahkan perintahnya. Ini nih, alasan aku bangun kesiangan hari ini. Apalagi kalau bukan PR? Semalam suntuk aku begadang berjuang menyelesaikan rentetan soal-soal yang membuat urat saraf keriting. Beberapa temanku masih sibuk menuliskan jawaban, yang entah benar atau tidak, di buku mereka. 

Aku mah santai. Buat apa begadang semalam kalau tidak selesai? Jelas sudah rapi tertulis semua jawabanku di buku PR ku. Pelan aku buka ranselku dan melongok isinya. Kucari buku bergambar minions itu. Hm, tak ada? Aku menambah konsentrasi mencari buku itu. Masih tidak bisa kutemukan. Aku mengeluarkan semua isi ranselku. Menumpahkannya ke meja. Beberapa temanku, juga Bu Delta, memperhatikan. Aku mulai panik! Minions ku tidak kutemukan! Maksudku, buku PR itu. PR yang kukerjakan mati-matian begadang semalam, raib! Tak berjejak! Ah! Aku ingat sesuatu. Buku itu masih berada di meja belajarku. Tak sempat terciduk saat tadi buru-buru mengisi ransel.

“Dian, punya kamu mana?” Bu Delta menyadarkanku. “Hehe, hm, eh anu, bu,” aku berpikir keras. “Anu kenapa?” ah, jawaban ini. Pertanda bahwa tak boleh ada alasan untuk diucapkan. 

“Kamu lupa tidak bawa bukunya?” terka Bu Delta. “Eh, iya bu, kok tahu sih bu?” masih dengan cengiran tidak tahu diri aku menjawab. “Oh, ya sudah. Tidak apa-apa.” 

Hah? Apa ini? Apakah aku termaafkan? Hm, sulit dipercaya. “Kamu bisa kumpulkan besok. Tapi jadi dua lembar ya. Sama, sekarang kamu jangan duduk disitu. Berdiri gih di depan sini” Bu Delta menunjuk samping papan tulis dengan dagunya, memberi isyarat agar aku berdiri disana. Ah, mati aku. Dua jam pelajaran aku berdiri, pegal-pegal kakiku. Biarlah, mungkin ini suratan takdir.

Dhuhur tiba dan beberapa temanku mengajak ke masjid. Hujan tadi sempat mengguyur sebentar. Kini sudah terang lagi. Aku mengambil air wudhu lalu bergegas naik ke lantai dua, khusus untuk siswi. Kutunaikan shalat Dhuhur dengan tenang. Ketika hendak turun, sejenak aku mematung. Tangga yang menghubungkan ke lantai dua berada di luar ruangan, itu berarti tadi sempat terguyur air hujan dan sekarang masih basah. Aku tidak menyadarinya ketika naik tadi. Ditambah, baru sekarang aku sadar kalau tangga itu cukup curam. Hm, aku bergidik sesaat lalu berjalan pelan seraya memegangi pagar. Setengah anak tangga berhasil kulewati. Tapi kemudian, buk! buk! buk! Tiga dari lima anak tangga terakhir aku turuni dengan pantat! Aku terpeleset! Beberapa siswi di belakangku berteriak melihatku yang kini duduk. Ah, malu kali aku! 

Aku berlalu dengan cepat setelah memakai sepatu. Aku sempat tersenyum agar mereka yang bersimpati merasa lega. Diperjalanan menuju kelas, kurasakan beberapa mata menatapku. Aku cuek bebek saja dan terus melangkah. Hampir sampai di kelas, tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku. Ah! Hampir aku berteriak. Dia, sang gebetanku, yang telah menyentuh bahuku. Dia tersenyum, uh manisnya. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya dan baru kusadari, wajahnya dekat sekali denganku! Aku masih tak berkata apa-apa ketika dia menarikku ke kelas. Beberapa temanku, yang tahu bahwa aku menyukai dia, melihatku dengan senyum jail mereka. “Hei, apa kamu yang terjatuh di tangga tadi?” 

Duar!  Sepertinya ada gemuruh yang baru menyambar. “Kok dia tau sih? Dia liat ya?” 

Aku menunduk karena malu. Ia masih mentapku, lalu ia melanjutkan kalimatnya. “Cuma mau bilang, rok kamu sobek bagian belakangnya.” ia mengatakannya pelan, tepat ditelingaku, seraya menempelkan sebuah buku tulis, yang entah darimana dia bawa, ke bagian belakang rokku yang sobek. Dia meraih tanganku dan membuatnya menahan buku tulis yang kini menutupi sobeknya rok yang kupakai. “Besok-besok lebih hati-hati lagi yah,” ia tersenyum dan pergi. Gila! Tepat setelah ia keluar dari kelasku, teman-temanku yang sedari tadi mengamati langsung tertawa keras tanpa ampun. Payah!

Aku pulang dengan hati dongkol. Untung saja perjalananku aman-aman saja. Aku sampai rumah dengan selamat. Kuparkir sepeda dan mengucapkan salam. Bergegas ke kamar setelah mencium tangan ibu, lalu mandi dan istirahat. Aku berbaring dan meratapi nasib. 

Adzan Isya’ berkumandang dan membangunkanku. Ternyata aku tertidur. Aku turun untuk makan setelah shalat. “Dek, abang mau tahlilan dulu, ya. Ntar bukain pintu waktu pulang, oke?” bang Tio, kakakku, berpesan. Aku mengangguk cuek sebagai jawaban. Aku membawa makananku ke depan televisi. Aku ingin makan sambil menonton film, mungkin. Ternyata ada film Titanic, film favoritku, yang sedang tayang. Dengan semangat aku menontonnya meski telah berulang kali kutonton. Jam dinding menunjukan pukul sepuluh ketika abangku pulang. “Ah, aku ngantuk banget. Bapak-bapak komplek pada ngobrol panjang banget,” keluhnya ketika menjatuhkan diri di sofa. “Abang langsung tidur yah? Kamu mau tidur kapan?” bang Tio bertanya padaku yang sedang fokus pada film roman itu. “Oh, apa? Hm, nanti kalo udah selesai ni pilem” jawabku sekenanya. Bang Tio mengangguk dan berlalu. “Jangan malem-malem lho, ntar ada temennya,” ia tersenyum mencurigakan. Aku tak menanggapinya. 

Pukul 12 lewat lima menit, film roman nan tragedi itu selesai. Aku hendak beranjak ketika kudengar ada suara ketukan di pintu depan. Aku bergidik, reflek kumatikan televisi dan diam mematung. Ketukan itu tanpa henti terdengar, meminta dibukakan pintu kupikir. Tapi siapa yang datang di tengah malam seperti ini? Aku langsung teringat kata bang Tio tentang ‘teman’ tadi. Seketika bulu kudukku berdiri. Aku meringkuk di sofa. Brak! Ketukan itu berubah menjadi gedoran. Aku terlonjak dan hampir saja pipis dicelana. Aku berlari menuju kamar bang Tio lalu membangunkannya dengan paksa. “Bang! Ada orang gedor-gedor pintu!” ucapku pelan namun cepat. Bang Tio langsung terbangun mendengarnya. Kami berdua berjalan ke ruang depan. Pintu itu masih terus digedor. Aku mungkin benar-benar akan pipis jika saja tidak ada bang Tio disini. Aku ketakutan! 

“Coba kamu intip sana lewat gorden,” pinta bang Tio, yang masih setengah sadar kupikir. “Abang jagain dari belakang,” lanjutnya. Aku beranikan diri. Gedoran itu benar-benar menakutkan. Aku mengintip lewat gorden, remang-remang bagian teras rumahku terlihat. Pintu masih digedor, jantungku benar-benar ingin copot! Aku paksakan melihat apapun yang bisa kutangkap. Kulihat sebuah bayangan, bayangan yang menakutkan! Tanganku bergetar, gedoran berikutnya benar-benar akan membuatku pipis dicelana. Tapi, hal berikutnya yang terjadi malah membuatku terdiam dan seketika lenyap rasa takutku. “Meeeoonng,, meeeooong” kupikir begitulah cara menuliskan suara dua kucing yang asik berkelahi didepan rumahku. Aku tak habis pikir. Aku ketakutan hingga hampir pipis dicelana karena gedoran akibat perkelahian dua kucing? Lantas aku tertawa lepas. Bang Tio menjitakku, “Mangkanya, jangan asik nonton tivi mulu!” nasehatnya. Ia kembali ke kamarnya begitu juga aku. Aku naik ke tempat tidurku dan tak lama aku terlelap. What a day ! 

***
Naniek RM

Ga suka foto! Hehe. Naniek RM, biasa dipanggil Nan. Lahir pada tanggal 10 Mei. Asli suku Jawa dan tinggal tidak jauh dari Semarang. Tiga hal yang disukai : makan, menulis, dan tidur.

0 comments:

Post a Comment