Sunday, 17 February 2019

Jangan Pikir Saya Peduli

Judul diatas mungkin akan terbaca menyebalkan. Di saat kondisi negara sedang hiruk-pikuk dengan kepedulian kepada sesama karena susul menyusul bencana, tiba-tiba tidur siang saya terbangun karena sebuah gangguan kebatinan yang terbawa dalam mimpi. Semua sebenarnya adalah serentetan kejadian yang beruntun sejak saya berniat untuk berubah dan tampaknya gesture ini terbaca oleh orang lain. Tanpa harus saya ceritakan sebejat apa saya dahulu kala, yang penting di saat sekarang, saya akan mempunyai keberanian yang lebih untuk mengatakan tidak pada ajakan-ajakan kebiasaan hura-hura seperti yang biasa saya lakukan dulu. Sebut saja nongkrong di coffee shop. Bukan soal coffeee shopnya, tapi kebiasaan itu saya lakukan dengan kecenderungan ngalamun, kalau sendirian, atau malah ngomongin orang kalau nongkrongnya bareng-bareng. Salah siapa? Salah saya sendiri.

Foto via Pixabay

Kebiassaan ini saya rubah, yang tadinya seringnya saya share di wall status whatsapp atau media sosial tentang hedonisme kota besar dan tempat-tempat makan enak yang hanya menampilkan foto makanannya saja tanpa review yang berfaedah bagi khalayak, sekarang saya ganti dengan berbagi nasehat-nasehat yang bernilai islami, sesuai keyakinan saya, tapi juga saya pilih yang ringan dan sekiranya mudah dicerna dan nyambung dengan kehidupan sehari-hari. Contoh, saya share tentang adabnya minum dengan posisi duduk dan memegang gelas dengan tangan kanan, tapi saya sambungkan dengan kebiasaan saya minum kopi setiap hari. Sebagian besar orang juga pasti suka minum kopi, tapi alangkah lebih nikmat kalau minumnya tidak hanya menyegarkan kerongkongan dan mendinginkan perasaan karena sihir dari kafein, tetapi juga berguna bagi rohani karena kita menjalankan sunnah nabi. Jadi, semacam iseng-iseng berhadiah. Iseng minum kopi, berhadiah pahala.

Saking seringnya saya sharing tentang nasehat-nasehat itu, orang lain kemudian menilai bahwa telah terjadi sebuah titik balik dalam diri saya, bahasa ngetrendnya hijrah, yang kemudian membuat orang lain justru menyalakan alarm, karena khawatir saya terpapar arus radikalisme. Padahal, sesedikit yang saya tahu, radikal itu asal katanya radix yang artinya akar. Artinya orang itu bergerak atau berpikir radikal adalah karena mereka mempelajari sampai dengan memahami suatu hal sampai ke akar-akarnya.

Baiklah, sebelum saya terlalu jauh membahas filsafat radikalisme yang saya sendiri juga tidak paham, saya akan kembali dengan para pembaca dan penggemar status media sosial saya di luar sana. Di satu sisi, saya bersyukur karena tidak jarang beberapa dari mereka turut mendoakan supaya saya istiqomah alias ajeg di jalanNya. Golongan teman-teman yang pertama ini, sampai saat ini Alhamdulillah masih menjalin silaturahmi dengan baik, dan juga saling berbagi nasehat serta dukungan satu sama lain. Tidak ada rasa syukur lain yang saya konkritkan selain dengan saling mendoakan dan sekedar menyapa dan bertukar kabar untuk menjaga silaturahmi dengan mereka.

Tapi di saat yang bersamaan, saya juga punya fans di golongan kedua, yang tiba-tiba menghubungi lewat jalur pribadi, menembaki saya dengan kalimat-kalimat yang sangat panjang tanpa jelas lagi titik-komanya, dan mengatakan bahwa saya kurang kerjaan dengan ikut-ikutan aliran-aliran yang islami. Saya hanya membalas dengan emoticon smiley, dan lemahnya iman saya membuat saya balik bertanya, sebenarnya yang kurang kerjaan siapa ya? Bukankah mereka yang lebih dulu memulai obrolan tanpa saya minta. Dan lucunya, setelah serentetan kalimat panjang lebar itu, yang tidak pernah saya balas tentunya, si pengirim pesan mengakhiri obrolan dengan kalimat “kalau kayak gini mending kita jalan masing-masing.” Jujur saya bingung, ini kok seperti lirik lagu dangdut ya, siapa yang memulai siapa yang mengakhiri. Lagipula, memangnya selama ini kita jalan bareng-bareng? Enggak juga. Sekelompok inilah yang seharusnya membuat kita menjadi semakin dekat kepadaNya dan memperbanyak doa, dan jangan lupa turut doakan supaya Tuhan berkenan mengampuni dosa lisan dan prasangkanya serta hidayah sampai ke relung hatinya. Dan sebenarnya inilah filter awal yang diberikan oleh Tuhan tentang siapa-siapa saja yang benar-benar tulus berteman dan bersaudara dengan kita, namun tidak perlu juga sampai kita jauhi apalagi kita musuhi.

Belum selesai dengan kebahagiaan punya teman di golongan pertama dan kelucuan teman di golongan kedua, masih ada juga sekelompok orang yang ada di tengah-tengahnya. Sayangnya, kebanyakan kelompok ini justru didominasi oleh saudara atau teman-teman yang dulunya demikian akrab bercengkerama. Mereka di kelompok ini, dengan perubahan yang terjadi, sangat jarang sekali melempar komentar dengan status yang saya pasang selain dengan lambang jempol atau hanya “like”. Seketika saya berpikir, tidak ada masalah dengan mereka selain netral atau mudah-mudahan mendukung jalan yang saya ambil. Tapi ternyata tidak semudah itu, Fergusso. Mereka yang diam itu, adalah mereka yang akan tiba-tiba melancarkan aksi azas manfaat. Memuji dengan kalimat-kalimat indah dan mendamaikan hati, ujung-ujungnya pinjem duit. Ketika kita berbaik hati meminjamkan, mereka berterimakasih dengan beribu kalimat indah dan doa-doa puitis. Tapi ketika datang saaatya mengingatkan untuk mengembalikan, galaknya lebih-lebih dari kucing baru melahirkan. Ini sebenarnya sedikit merepotkan, karena keberpihakannya yang setengah-setengah, harus mengasah skill kita untuk berteman dengan mereka secara setengah-setengah pula. Pada saat mereka ada di pihak kita dengan segala macam pujian, jangan terbawa besar kepala, melainkan segera ingatkan bahwa ini semua adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kaya. Dan ketika mereka melancarkan aksinya dengan mencoba mengetuk hati berharap sejumlah donasi, tentukan saja sejumlah nominal yang sekiranya kita ikhlas jika tiba-tiba tidak kembali. Dan disaat yang sama, kita ingatkan juga tentang hak dan kewajiban dalam sebuah transaksi, khususya hutang-piutang. Tentunya ini semua harus kita lakukan dengan cara-cara yang nyaman di telinga. 

Terhadap kelompok yang terakhir ini saya tidak sedang berprasangka buruk ya. Saya juga tidak sedang mengajarkan untuk membatasi nilai ikhlas atau sedekah. Saya hanya ingin menyampaikan ke teman-teman bahwa, jalan apapun yang kita tempuh dalam hidup ini, belum tentu akan membuat orang lain berubah sikap juga terhadap kita. Mereka yang baik tidak perlu melihat sharing status tentang perubahan kita, mereka akan tetap berkarakter baik. Kawan yang terbiasa menjadi haters, juga akan berlaku sebagai antagonis dalam rekam jejak hidup kita. Begitu juga mereka yang ada ditengah-tengahnya, yang sudah terbiasa dengan karakter berbaik-baik dahulu lalu kabur setelah dapat pinjaman.

Kawan, yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah, berhati-hatilah dengan tontonan-tontonan di media yang selalu menyuguhkan keindahan. Kelihatannya enak bergabung dengan sekelompok orang yang punya satu visi misi menuju ilahi. Memang betul. Tapi jangan pernah lupa bahwa tidak pernah ada tontonan reality show yang murni. Reality show tidak lain adalah hidup kita masing-masing. Jika sudah ditampilkan di televisi, pasti ada gimik-gimik yang ditambahkan atas nama rating sebagai bumbu sehingga membuatnya menjadi second reality show. Kalau kita terlalu banyak menonton acara sinetron bollywood yang demikian indah dengan balutan tarian dan nyanyian dalam kondisi apapun. Di dalamnya diperankan tokoh-tokoh berhati baik yang demikian sering mengalah kepada si tamak yang berkali-kali menimpakan kejahatan. Film menampilkan seolah-olah dalam kondisi terpuruk seburuk apapun kita tetap harus menyanyi karena pasti ada yang hati yang diam-diam peduli. Berhati-hatilah kawan. Setegar dan sesabar apapun hati ini ditempa musibah, selain membombardir Tuhan dengan segala amunisi doa, bersiaplah juga dengan berfikir strategis dan bersikap realistis. Hidup tidak se-India itu.

***

Rahma Ariani Roshadi

Akun IG : @rahma_roshadi
Akun FB :Alina (Rahma Roshadi)


Blog  : www.rahmareborn.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment