Saturday, 16 February 2019

Ketidakpastian Mimpi

Saat memiliki mimpi dunia ini menjadi sangat menyebalkan. Dulu saat masih kecil semuanya sangat jelas kita tidak takut bermimpi. Tetapi dengan berlalunya waktu akan ada titik dimana kita tidak bisa terus untuk bermimpi. Entah karena kita merasa tidak berbakat atau takut. Takut akan banyak hal. Ketidakpastian akan masa depan membuat kita berhenti bermimpi dan memilih zona nyaman, memilih untuk mempunyai kehidupan yang sama dengan kebanyakan orang. Yang lain saja bisa bahagia dengan kehidupan seperti itu, kenapa kita harus berbeda? Taukah kawan pertanyaan itu selalu menghantuiku. 

Foto via Pixabay

Bahagiakah kita dengan zona nyaman itu? Tidak menyesalkah saat kita memilih pilihan tersebut? Hanyalah diri kita yang tahu akan jawabannya. Kebanyakan orang memilih bertahan dengan zona nyaman dan mengatakan mungkin sudah takdirnya. Entahlah kalimat itu benar atau tidak kawan. Secara pribadi aku tidak pernah setuju dengan kalimat itu. Hidup adalah anugrah, mau kehidupan yang seperti apa adalah pilihan. Bagaimana bisa seseorang menyerah dengan mengatakan mungkin sudah takdirnya dan segala perjuangan akan berakhir. Jika memang benar sesederhana itukah kehidupan ini? 

Ketika kita berusaha mengejar impian memang banyak yang harus dikorbankan, sahabat, waktu, tenaga, uang, masa depan dan terutama keluarga. Jelas kekhawatiran mereka ketika kita terus memutuskan untuk berlari. Sekencang apapun kita berlari, ketika mereka tidak dijalan yang sama kita tetap akan melihat kebelakang. Dititik inilah seseorang diuji akan impiannya, akan keseriusannya, dan akan keberaniannya. 

Seberapa lamakah kita bisa mengabaikan mereka? Kita bisa melihat senyum diwajah mereka, tetapi apakah itu senyum kebahagiaan atau senyum kekhawatiran? Kita bukan anak kecil yang tidak dapat menilai mana yang nyata dan mana yang sandiwara. Ketika memilih untuk terus berlari saat itu kita membohongi diri sendiri dan meyakinkan bahwa itu senyum kebahagiaan, bahwa mereka selalu berjalan di belakang kita, bahwa mereka ada di jalan yang sama. Mereka mengatakan bahwa semua akan baik baik saja, mereka menunjukkan dengan sangat jelas dukungannya. Kita pun melakukan hal yang sama mengabaikan mereka, mengatakan pada diri sendiri semua akan berakhir dengan indah. Tetapi saat terbangun dan menyadari segalanya saat itulah, benar ingin menyerah dan kehilangan kepercayaan diri untuk terus melangkah. Sulit melakukan itu semua, sungguh aku tidak berbohong.
Pada situasi inilah segalanya dimulai, segalanya menjadi tidak mudah, segalanya menjadi mustahil. Emosi yang menguasai diri kita. Kita marah pada semua orang, menyalahkan keadaan, menyalahkan Tuhan dan menyalahkan takdir. Semua hal menjadi tidak masuk akal, satu-satunya hal yang masuk akal adalah menyerah dan berhenti, memulai kehidupan yang sama dengan kebanyakan orang. 

Bagaimana bisa Tuhan memberikan pilihan seberat ini? Bagaimana mungkin kita memilih salah satu diantaranya? Pada tahap ini kita berburuk sangka pada Tuhan. Kita berpikir Tuhan tidak pernah adil pada hambaNya. Apakah impian hanyalah milik orang-orang tertentu? Kita pikir hanya mereka yang terlahir dari golongan tertentu yang bisa mengejar mimpi mereka tanpa takut kehilangan segalanya, tanpa harus memilih, tanpa harus melihat kekhawatiran dan kecemasan itu. Apakah setiap orang tidak diberi kesempatan yang sama untuk mengejar mimpi mereka? 

Entahlah apa yang membuat kita bisa untuk terus berlari, padahal berulang kali keadaan selalu membuat menyerah, selalu membuat kita berhenti, tetapi berulang kali pula Tuhan selalu menunjukkan bahwa kita masih sanggup untuk berlari bahwa masih sanggup untuk terus berdiri bahwa belum waktunya untuk menyerah.

Keadaan memang tidak pernah kehilangan cara untuk membuat kita berhenti bermimpi. Tetapi itu caraNya agar kita menjadi manusia yang sesungguhnya. Ada seribu alasan untuk kita berhenti dan bertahan dengan zona ini. Namun hanya ada satu alasan kenapa kita terus berlari, kenapa kita terus mengikuti kata hati, kenapa kita terus mengejar impian itu. Hal itu tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Hanya segelintir orang yang berani mengambil keputusan itu, yang memahami akan pentingnya impian.

Mengejar mimpi memang tidak lepas dari sikap kebohongan. Kita meyakinkan pada diri sendiri bahwa kita bisa menyerah, bahwa kita bisa berhenti, bahwa kita bisa menjalani kehidupan seperti yang lainnya, tetapi kita tidak pernah bisa membohongi hati kita. Hati kita yang menuntun untuk mengejar impian. Dia yang mengingatkan saat kita terjatuh ataupun menjatuhkan diri. Kita bisa mengatakan pada semua orang, bisa membohongi mereka, bisa membuat mereka sedikit lebih lega saat menuruti kata mereka, tetapi satu hal hati tidak akan pernah bisa untuk dibohongi sekeras apapun mencoba dia tetap tahu apa yang kita mau. Hidup memang tidak akan menarik tanpa impian. 

Mengejar mimpi bukan sekedar ambisi untuk mendapatkan apa yang kita mau, menjadi apa yang kita mau tetapi lebih kepada bagaimana proses kita, bagaimana kita mampu membuat keputusan saat benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana kita mampu membaca keadaan, bagaimana kita bisa menghargai perbedaan. Yang terpenting adalah proses bukan hasilnya. Kita sadar hanya akan ada dua kemungkinan berhasil atau gagal. Keduanya memiliki peluang yang sama, tetapi itu tidaklah penting karena secara pribadi aku tidak ingin mengenal keduanya. Keberhasilan adalah bonus yang Tuhan berikan kepada kita sedang kegagalan adalah cara menunjukan kuasaNya bahwa proses jauh lebih penting dari hasil. Hal indah pasti akan datang tepat pada waktunya.

***
Nofi Triana Kuspitasari

Alamat : Yogyakarta


Email:nofitriana96@gmail.com

0 comments:

Post a Comment