Sunday, 17 February 2019

Logical Thinking : Open Mind Bukan Open Brain

Menurut Pak Fuad yang merupakan dosen Ilmu Pengantar Komunikasi, ketika kita kuliah bukanlah nilai yang kita cari dan bukan juga kehadiran dikelas, menurutnya soal keduanya gampang. Tapi yang paling utama dari tujuan kita kuliah yaitu bagaimana kita dapat merubah pola pikir kita. (Logical Thinking) atau kerangka berpikir kita. Dalam kaitannya dengan hal ini seorang manusia mempunyai akal (mind) dan pikiran, otak (brain). Ketika kita berbicara logical thinking maka sebelum itu kita harus melihat bahwa akal (mind) ada bersama qalbu (hati). Hati berperan dalam diri sebagi awal, dasar untuk kita dapat menggunakan akal (mind) dengan baik. Hati berurusan dengan kegiatan ibadah kita dengan Allah SWT. baik itu yang  Mahdar (yang berhubungan langsung dengan Allah SWT.) atau Ghiru Mahdar. Qolbu disini terbentuk dari awal, yang dipengaruhi oleh lingkungan disekitar kita. Dan lingkungan yang paling dekat dengan kita yaitu keluarga (family). Pak Fuad berkata “Saya dapat melihat bagaimana keluarga anda mendidik anda, dari apa yang saya lihat dari diri anda sekarang. Gaya bicara anda, cara anda bertanya, cara berpakaian, dsb.”  

Foto via Malangtimes

Sebenarnya berbicara tentang hati ada bagian dibawah hati yang esensinya paling dalam yaitu Fuaddun.  Jika hati sudah baik maka akal (mind) akan baik. Sedangkan berbicara tentang pikiran (brain) akan selalu berbenturan dengan akal (mind) karena, akal (mind) itu berhubungan dengan hati (qolb). Pak Fuad mencontoh kan hal ini dalam ceritanya, “Ketika itu Saya akan pergi ke Bogor karena ada suatu urusan, pas ketika itu juga ada seorang mahisiswi yang kebetulan orang Bogor juga akan pulang. Karena satu tujuan dan Saya pun membawa mobil sendiri, maka Saya memutuskan untuk pergi bersama dengan mahasiswi tersebut, sekalian agar lebih irit ongkos dan membantu Saya juga dalam menunjukan arah ke Bogor, karena orang pribuminya pasti lebih tahu tentang Bogor. Maka saya dan mahasiswi tersebut pergi ke Bogor bersama, disaat perjalanan menuju puncak karena kelelahan Saya dan mahasiswi tersebut memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Kami makan bersama sembari melepas lelah, dan ketika itu tiba-tiba datang seseorang yang saya kenal. Dia menyapa saya sembari berguarau “Ahmad Fuad siapa itu? Bukannya kamu sudah punya istri ya? Sudah punya anak juga kan?” “Oh...Iya memang benar Bro, kalau itu salah satu mahasisw Saya, kebetulan dia akan pulang ke Bogor jadi karena satu tujuan kita barengan, Bro”, Pak Fuad menjawab dengan santai, “Mahasiswi ternyata, oh...oh”. Teman Pak Fuad menimpali sembari menganguk-angguk.”

Disini klimaks antara akal (mind) dan pikiran (brain) bermain. Menurut sudut pandang dari pikiran (brain) cerita diatas tentang Pak Fuad dengan seorang mahasiswinya berangkat ke Bogor bersama dapat dibenarkan atau sesuatu yang benar, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Karena hubungan keduanya yaitu hubungan antara seorang dosen dan mahasiswi, hubungan profesionalitas. Karena satu tujuan jadi mereka berangkat bersama. Soal makan masa iya Pak Fuad mau makan di meja dan mahasiswinya di mobil, ya pasti makan bareng lah. Tapi berbeda dengan akal (mind) yang dapat menganggap hal tersebut adalah salah. Disini terlihat dari temannya Pak Fuad, entah apa yang ada dibenaknya, mungkin hal-hal aneh dan menyeleweng yang dianggapnya dilakukan oleh Pak Fuad. Disini pak Fuad tidak bisa melarang temannya untuk berasumsi demikian, karena yang bermain disini adalah akal (mind) dari temannya tersebut. 

Pak Fuad juga mencontohkan dengan cerita lain yang ia alami, “Ketika itu Saya pergi ke Yogya untuk mengantar keponakan Saya (dia remaja putri yang agak pecicilan dan tidak memaki hijab) yang akan kuliah disana. Di Yogya Saya akan memperkenalkan keponakan Saya dengan teman-teman Saya yang ada di sana. Ketika itu kami tiba di Yogya dan memutuskan untuk menginap disalah satu hotel disana. Setiba di hotel kami langsung naik ke lift untuk menuju kamar, ketika itu saya masuk ke lift lebih dulu, kebetulan di dalam lift ada seorang ibu-ibu. Sebelum pintu lift tertutup keponakan saya dengan terburu-buruu memanggil Saya “Om tunggu akau”, ketika itu refleks semua mata orang-orang yang ada disana tertuju kepada Saya, dengan pandangan yang aneh dan ekspresi yang kuarang enak. Begitu juga dengan ibu-ibu yang ada di lift, dengan agak gimana saya bilang “Itu keponakan Saya Bu,” “Keponakannya?” tanya si Ibu dengan ekspresi menyindir. Disana jlep... langsung hati saya terkena sindiran si Ibu. “Iya Bu itu keponakan Saya”, agak sedikit kesal Saya menjawab. Dengan agak terpaksa ibu itu menahan pintu lift agar tidak langsung tertutup. Keponakan Saya pun masuk ke dalam lift, kita naik bareng ke kamar hotel, dan disana ekspresi si Ibu tadi masih dengan pandangan curiga. Setiba dikamar saya bilang kepada keponakan Saya “Elu sih... malu-maluin tadi, teriak-teriak panggil Om..!” “Ya emang benerkan, Om itu Om aku”, jawab keponakan Saya. 

Dari cerita diatas pikiran (brain) dapat membenarkan tentang Pak Fuad dan keponakannya ke kamar hotel bareng, toh memang dia kan keponakan Pak Fuad, di dalam kamar pun mereka tidur terpisah, masing-masing. Apa yang salah?

Tapi menurut akal (mind) itu bisa jadi hal yang salah, terlihat dari ekspresi orang-orang yang melihat Pak Fuad naik lift bareng dengan keponakannya (remaja putri) apalagi dari ekspresi dan gaya bicara si Ibu yang ada di dalam lift yang agak sinis. Jadi dalam hal akal (mind) dan pikiran (brain) akan berbenturan satu sama lain. Pikiran (brain) dapat membenarkan segala hal, karena itu untuk orang-rang yang hanya menggunakan pikiran (brain) saja dan mengaggungkannya akan mengangga dirinya paling benar, dan setiap apa yang dilakukuannya adalah benar. Seperti contoh seorang pejabat ataub profesor yang korupsi, mereka adalah orang-orang pintar. Tapi mengapa mereka korupsi? Jawabannya karena yang mereka gunakan hanya pikiran (brain) mereka saja. 

Jadi untuk dapat mengerti tentang Logical Thinking harus baik dulu qolb dan akalnya (mind), itulah mengapa ada istilah open mind bukan open brain, mindset bukan brainset.

Lalu untuk dapat ber-logical thinking maka sebagai mahasiswa harus benar-benar menguasi term-term dari suatu ilmu pengetahuan, untuk mengetahuinya yaitu dengan buka,baca kamus dan melalui ensiklopedia (ensiklopedia menurut Pak Fuad pada era sekarang kit atidak harus beli, karena bukunya yang jarang dan jugab saat ini lebih mudah kita dapat membuaka ensiklopedia di internet). Setelah itu kita bisa membuat suatu pharaprase yang nantinya akan mengarah kepada pembuatan essai. (yang mana pembuatan essai itu kita dapat menceritakan kembali dari hasil bacaan yang kita baca). 

Di hari itu juga Pak Fuad menjelaskan salah satu teori kominikasi dari Edward T. Hall, yang mana penjelasannya yaitu, menurut teori komunikasi ini area atau wilayah komunikasi dibedakkan menjadi beberpa area. Dengan diperagakan oleh Adit dan Sazili juga Yasmin dan Riqqah, Pak Fuad menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi ada jarak-jarak tertentu antara hubungan orang yang baru kenal, sudah kenal, kenal dekat, dan sangat dekat. Disini berbicara tentang komunikasi diranah publik, terbuka dan dapat terlihat oleh orang lain. Dimana antara orang yang baru pertama bertemu dan sebelumnya belum kenal dalam hal bersalaman ada jarak tertentu, jarak mereka berhadapan agak jauh (area publik). Sedangkan untuk orang yang bertemu dan sebelumnya sudah saling mengenal jarak mereka berhadapan agak mendekat, lebih pendek jarak nya dibanding di area publik, ini disebut (area persoanal), berbeda dengan yang ini ketika seseorang bertemu dengan orang yang sudah sangat dikenal maka jarak yang mereka bentuk ketika bertemu akan lebih dekat lagi dari area sebelumnya (close area) dalam area ini sekitar 30% budaya yang menerima hal ini. Dan ketika seseorang yang sudah saling mengenal sangat dekat maka ketika mereka bertemu, tidak ada lagi jarak diantara keduanya, sangat dekat sekali (intimate area) dalam area ini hanya 10% kebudayann yang menerima dari beberpa negara. Maka jika sesorang individu melakukan komunikasimya dalam ke empat area tersebut akan ada konsekuensi-konsekuensi yang harus diterima. Karena tidak semua orang bahkan budaya luar pun tidak semua menerima hal tersebut. 

Penerapan teori ini dalam kaitannya dengan kita sebagai mahasiswa yaitu, ketika di area publik kita harus sadar batasa-batasan dari komunikasi yang kita lakukan dengan orang lain. Lalu bagaimana jika hal tersebut dilakukan diruangan tertutup tidak terlihat? Jawabannya sama saja hal tersebut juga akan berpengaruh pad penerimaan komunikasi oleh orang-orang sekitar. Kembali lagi kepada akal (mind) dan pikiran (brain) yang selalu berbenturan tadi. Misalkan kita berkomunikaasi dengan lawan jenis di kosan untuk mengerjakan tugas kelompok lalu pintu kosan kita tutup makan dalam hal ini menurut pikiran (brain) bisa dibenarkan (karena merekan di dalam kamar kosan sedang diskusi, apa yang salah?) berbeda dengan akal (mind) akal akan menolaknya dan berpikiran entah kemana. 

Untuk itu ada hubungan antara teori ini dengan syariat agama Islam, Masya Allah. Itulah sebenarnya apa yang dimaksud dengan “Wahyu Memandu Ilmu” yang menjadi visi dari UIN SGD Bandung. Menurut Pak Fuad anehnya di Indonesia teori komunikasi ini tidak ada atau tidak berlaku dalam kegiatan naik angkot dan kegiatan jual beli di pasar. Ketika direfleksikan ternyata oh...memang benar seperti itu adanya.

***
Sri Dela Agistin

Tempat/tanggal lahir : Subang, 17 Agustus 1997
Jenis kelamin: Perempuan
Alamat: Kp. Cikeuyeup, RT. 16/RW. 05, Desa Mayang Kec. Cisalak, Kab. Subang, Jawa Barat.
Stataus: Mahasiswi
Hobi: Memasak dan membaca
Motto hidup: “Cepat bergerak sebelum terlambat”
Email: agistindela@yahoo.com

Instagram: sri_dela_agistin

0 comments:

Post a Comment