Sunday, 17 February 2019

Megahkan Syukur

Hidupku sebagai manusia dewasa tergolong baik-baik saja. Meskipun aku harus merantau, setidaknya aku memiliki pekerjaan yang baik. Gajiku tidak terlalu besar, tetapi aku tidak berkekurangan. Aku tidak pernah berhutang kepada teman-temanku atau meminta orang tuaku untuk mengirimkan uang kepadaku. Aku belajar agar dapat mengatur pendapatan dengan bijak sehingga dapat dikirim ke orang tua, dapat memberikan uang saku untuk adikku yang masih berkuliah, dan selebihnya kusisihkan untuk tiket pulang kampung. Karena keuanganku yang tidak berlebih, tidak jarang aku harus menahan keinginanku untuk membeli baju ataupun sepatu baru, dan aku seringkali menolak ajakan teman-teman untuk sekedar bercengkerama, menghabiskan waktu di kedai kopi yang elite. Daripada sekali minum harganya lima puluh ribu, lebih baik aku membeli kopi sachet saja, yang dapat kuminum lima puluh kali untuk lima puluh hari ke depan, pikirku.

Foto milik Pixabay

Aku juga tergolong sangat jarang membeli makanan di kantin tempatku bekerja. Maka, aku menyiasatinya dengan membawa bekal makan setiap hari. Membawa nasi dan lauk pauk yang aku masak sendiri. Botol minum yang terisi air putih adalah andalanku agar aku tidak tergoda membeli minuman dingin di kantin. Di samping itu, aku lebih senang makan lauk ikan dibandingkan daging ayam. Bukan karena daging ayam lebih mahal harganya, tetapi kebetulan aku memiliki alergi. Apabila aku makan daging ayam, maka keesokan harinya, jerawat sudah pasti akan bertengger di wajahku. Syukurlah, alergi ayam itu ternyata menguntungkan untukku.

Oke, sekarang mari kita luruskan pandanganmu terhadap diriku. Kau tidak perlu merasa kasihan atau prihatin atas keputusan gaya hidup yang kuambil. Mengenai apa yang aku makan, apa yang aku minum, dan apa yang aku kenakan. Walaupun beberapa rekan kerjaku, terang-terangan menyatakan bahwa aku adalah orang pelit dan tidak pernah menyenangkan diri sendiri. Aku tidak sakit hati mendengar perkataan itu, dan aku juga tidak pernah berniat untuk menjelaskan kepada mereka, mengapa aku melakoni kehidupan seperti ini. Mengenai penilaian orang lain terhadap diriku, tidak perlu terlalu dipikirkan. Biarkan saja, masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Selama hidupku tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, bagiku itu sudah cukup.

“Iya, kalau aja si Fiona bisa menabung empat juta sebulan, itu udah keren banget. Sekarang ayahnya sakit, tapi dia tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Heran, kemana sih uang gajinya itu.” Tante bercerita di telepon. Aku dapat merasakan adanya aura kemarahan dan kekecewaan terhadap Fiona, sepupuku, yang merupakan kemenakannya.

“Hah? Kok nabung empat juta? Gajinya berapa, tan?” Tanyaku penasaran.

“Empat belas juta lima ratus rupiah, sebulan. Kamu gak tau?”

“Beneran, tan? Itu sih, tiga kali lipat gajiku. Oh My God!”

“Nah, itu masalahnya. Gaji besar, boro-boro bantuin orang tua, nabung aja susah”

“Hmm.. Kalau kabar Nita, gimana tan?” Aku kemudian mengalihkan pembicaraan.

“Dia mah agak pelit, engga mau ngasih mentahnya. Tapi masih mending sih, soalnya dia royal beliin makanan kalau keluarga lagi pada ngumpul.”

“Lagian, tante mintanya uang sih” Candaku.

“Eh, jangan salah. Sebulan, sepuluh juta gajinya.”

“Hah?” Aku lagi-lagi tercengang.

Aku memang tidak terlalu memiliki informasi yang banyak mengenai keadaan sanak saudaraku. Ditambah pula, aku dan tante tidak terlalu sering bercakap-cakap di telepon. Mungkin hal ini dikarenakan bahwa sedari kecil, aku sudah tinggal di Kalimantan bersama orang tua, namun seluruh keluarga besar berada di Bandung. Perbedaan jarak tempat tinggal, membuat hubunganku dengan semua sepupuku tidak memiliki kedekatan yang berarti. Kami memang berteman di facebook dan instagram, namun tidak pernah saling chatting untuk sekedar basa basi atau bertukar kabar, bahkan kami tidak menyimpan nomor telepon satu sama lain. Yang kutahu hanyalah, usia Fiona dibawahku setahun dan ia lulusan ITB. Nita, seumuran denganku, lulusan dari UNJ. Sedangkan ketiga sepupuku yang lainnya masih duduk di bangku sekolah.

Sekarang mari kuceritakan secara garis besar mengenai keadaan keluargaku. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang kedua berkuliah di Yogyakarta dan adik bungsuku masih duduk di kelas 12 SMA di salah satu sekolah swasta yang tidak jauh dari rumahku. Ayahku bekerja sebagai salah satu pegawai di perusahaan swasta, dan ibuku menambah penghasilan dengan berjualan sembako. Melalui gambaran singkat tersebut, kurasa engkau dapat menyimpulkan bahwa kehidupan keluarga kami tergolong sederhana. Sedari kecil, aku dan adik-adikku tidak pernah dimanjakan dengan barang mewah atau makan di tempat mahal. Orang tuaku selalu mengajarkan untuk tetap bersyukur atas apa yang kita miliki. Bukan malah merepotkan diri untuk membanding-bandingkan rezeki diri dengan orang lain. Memprioritaskan apa yang menjadi kebutuhan dan mengesampingkan apa yang menjadi keinginan. Teori ini sangat mudah untuk ditulis, tetapi begitu sulit untuk dilakukan.

Ketika awal-awal bekerja dan dapat menghasilkan uang dengan keringat sendiri, tentu saja ada perasaan bangga dalam diriku. Hal ini menjadikanku kalap saat berada di pusat perbelanjaan, apalagi ketika melihat tulisan SALE. Sungguh, aku membeli semua yang menjadi keinginanku. Ada perasaan puas yang telah kuberi makan. Namun, kepuasan itu tidak bertahan lama sebelum akhirnya timbul penyesalan dalam batinku. Aku hampir saja kekurangan uang untuk membiayai kehidupanku sendiri setelah adegan gelap mata saat berbelanja di mall.

Namanya juga kehidupan. Seiring perjalanan waktu, maka harus ada pelajaran yang dapat dipetik. Jikalau aku tidak bisa meredam keinginan, maka sampai kapanpun aku tidak akan bisa mengutamakan kebutuhan. Keinginan itu tidak akan ada habisnya walaupun terus-terusan dipenuhi. Tetapi yang namanya kebutuhan, adalah hal wajib yang mau tidak mau harus terpenuhi.

Pekerjaanku biasa saja, gajiku juga tidak sebesar kedua sepupuku. Ketika aku sudah belajar untuk menata kehidupanku dengan pendapatan yang ada, aku harus mendengar kabar mengenai karir sepupuku yang lebih nyaman. Bekerja dan mendapatkan upah delapan digit angka pada rekening, namun tidak bisa membantu orang tuanya. Hey, jika aku yang berada pada posisi sepupuku, maka aku pasti akan dapat membantu orang tuaku dengan memberi transferan yang lebih banyak.

Aku masih tidak habis pikir. Gaya hidup seperti apa yang dianut oleh kedua sepupuku tersebut. Sebagai manusia biasa, tentu saja aku membandingkan diriku dengan mereka. Ketika aku harus menyisihkan uang untuk membeli tiket pesawat dari Manado ke Kalimantan demi bertemu orang tuaku, kedua sepupuku bahkan hanya dengan menggunakan angkutan umum dan menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, mereka sudah dapat memeluk orang tua mereka. Ketika aku harus tinggal di asrama, dengan ruang pribadi yang terbatas lantaran satu kamar memuat tiga penghuni, sepupuku bisa tinggal nyaman sendirian di kost ber-AC dengan membayar dua juta per bulan. Ketika aku harus berhemat besar-besaran untuk liburan bersama sahabatku ke Bali, bahkan tanpa perencanaan yang matang, sepupuku bisa mendadak berangkat ke Jepang untuk liburan selama empat hari.

“Jangan memaksakan standar hidup orang lain menjadi titik acuan keberhasilanmu, nak. Tidak perlu membandingkan, nanti kamu jatuh ke dalam dosa iri hati.” Ujar mama lewat telepon.

Aku bersyukur, ibu selalu mengingatkanku untuk bersyukur. Barangkali yang sering terlupa adalah, bahagia tak melulu perihal harta yang bergelimang. Dengan belajar menerima apa yang kita miliki, tanpa berandai-andai untuk memiliki yang tidak kita miliki, maka kita pasti akan dapat mengucapkan syukur. Tak perlu merogoh saku, tak perlu pula mengubek-ubek isi dompet. Pikirkanlah, untuk kebahagiaan yang gratis yaitu masih diberikan napas untuk hidup hari ini, sudahkah kita bersyukur kepada Sang Pencipta?

***
Philia Novi Tiurma Turnip

Kelahiran 24 November 1994 di Pemangkat, Kalimantan Barat. Merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ini sedang bekerja di salah satu sekolah swasta yang berada di kota Manado.
email : philiaturnip@gmail.com
Akun ig : @philiaturnip

1 comment:

  1. Wah benar sekali kak. Emang bahagia yang ga bisa dibeli harta adalah bersyukur.

    ReplyDelete