Sunday, 17 February 2019

Pinjaman dari Tuhan

Hari itu sepanjang jalan menuju kantor, pikiran dan mata saya sibuk. Pikiran sibuk melayang tidak tentu arah, sedang mata terasa panas karena sibuk menahan air mata yang menyeruak ingin keluar. Entah kenapa, hari itu rasanya berat sekali untuk berangkat kerja, padahal tidak ada alasan apapun untuk saya merasa seperti itu. Semuanya terasa baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Hingga saya duduk di meja kerja saya, pun, perasaan sialan itu tidak juga berkurang atau bahkan menghilang, malah bertambah, lalu berhasil mendistraksi diri saya hingga tidak bisa sepenuhnya konsentrasi dengan pekerjaan saya. Benci sekali.

Foto milik Inilah.com

Lewat pukul tiga sore, orangtua saya tiba-tiba menelpon saya, yang mana tidak pernah sama sekali mereka menghubungi saya di jam kerja saya. Aneh tentu, namun tidak ada firasat buruk sedikitpun dalam diri saya perihal alasan tersebut. Malas pula rasanya untuk menerka apa kira-kira alasan dibalik panggilan itu.

“Bisa izin, nggak? Kita ke jawa sekarang. Lekmu barusan meninggal.” Mama bahkan tidak menjawab salam saya tatkala telepon itu diangkat. Suaranya bergetar, lemas, seperti menahan tangis. Saya pun lemas. Bertumpu pada lutut, tangan saya bergetar, berusaha menopang badan yang berisi ini ke tembok yang ada di samping saya. 

“Innalillahi…” Lirih, saya ucapkan kalimat itu. “Aku izin sekarang Ma.” Jawab saya. Sambungan telepon lekas saya alihkan ke Mbak Ingga, HRD di kantor. 

“Mbak… aku harus ke jawa sekarang. Kakakku meninggal.” Ya. Saya memanggil Lek (Paman) saya sebagai Kakak, karena saya pikir, saya nggak punya waktu untuk dibuang menjelaskan bagaimana silsilah Lek saya dalam keluarga. Cukup rumit, malas dan tidak bisa berpikir secara jernih.

Saya lalu ke ruangan Mbak Ingga, mengambil surat izin untuk kemudian saya ajukan tanda tangan persetujuan pada supervisor saya.

Perjalanan menuju rumah terasa sangat lama dan jauh. Membuat saya memiliki banyak sekali waktu untuk membawa pikiran pada hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Seperti bagaimana Lek saya yang satu ini adalah sosok yang digadang-gadang akan sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala, lalu kembali ke Bandung, membantu orangtua saya berdagang. Lek saya yang satu ini adalah sosok yang dipercaya oleh keluarga besar sebagai salah satu yang memiliki jatah usia yang lama karena kisah hidupnya yang cukup pelik dan menyerupai sinema Indonesia jaman dulu yang tidak berhenti di satu musim saja.

Ternyata tidak. Dia pergi duluan, dia diambil duluan. Di tengah perjuangannya dalam menyembuhkan keadaan mental serta perasaannya. Dia pergi duluan setelah meminta ampun, bersujud pada seluruh anggota keluarga atas seluruh kesalahan serta kekhilafan yang pernah dilakukannya tanpa maupun disengaja. Dia pergi duluan setelah memuji Tuhannya, pujian-pujian pada Tuhan tidak henti dilafalkannya mengiringi sakaratul mautnya yang Nenek saya kira hanya sebuah tidur yang pulas. Dia pergi duluan setelah membuat anaknya menyesal setengah hidup karena pergi bekerja, dan tidak mengurusinya di akhir nafasnya. Dia pergi duluan, menyusul Pakde yang amat disayanginya, dengan senyum kecil terukir di bibirnya. Kami dapat merasakannya. Rasa senang dan tenang yang dirasakannya terpancar dengan jelas di wajah yang kami lihat terakhir kali ketika jasad kakunya dimandikan.

Kepergian Lek membuat saya lagi-lagi tertampar. Tersungkur jauh ke tanah, menyadarkan saya bahwa selama ini saya terlalu sombong pada Tuhan. Terlalu percaya diri bahwa saya akan hidup selama-lamanya. Padahal, saya tidak bisa jamin apakah satu detik setelah saya mengeluarkan nafas, saya dapat menarik nafas lagi. Pemikiran ini memang sudah lama saya bawa dalam kehidupan saya. Bahwa kematian, adalah suatu yang pasti. Mungkin semua orang pun membawa prinsip ini juga ke dalam kehidupan mereka.

Akhir-akhir ini saya sering berpikir untuk mati. Saya tidak takut lagi apabila nyawa saya dicabut kapanpun, seakan sudah siap dengan segala perbekalan di akhirat. Ya, saya memang sesombong itu akhir-akhir ini. Tuhan lalu menampar saya, mengingatkan saya lewat Lek saya. Kalau saja saya bisa berkomunikasi dengan Tuhan, mungkin Ia sudah kepalang murka sama makhluknya yang super sombong satu ini. Saya memang keterlaluan.

Kita semua tentu tahu bahwa alasan kita diberi nyawa oleh Tuhan adalah untuk mati. Meminjamkan nyawa untuk kita semua, Tuhan ingin kita memanfaatkan pinjaman itu dengan sebaik mungkin. Mengisinya dengan hal-hal yang Ia sukai. Hakikat kita yang sebenar-benarnya adalah untuk mati.

Saya kembali pada sebuah pemikiran yang sudah lama terpendam. Saya tidak bisa terus menyia-nyiakan jatah pinjaman saya dengan hal yang tidak saya sukai, dengan hal yang tidak Ia sukai. Saya tidak bisa sombong dan besar kepala untuk terus menyia-nyiakan hidup. Saya ingin dan harus hidup menggunakan pinjaman ini dengan baik. Sangat baik. Sampai pada titik di mana saya tidak akan pernah menyesali apa yang saya lakukan di dunia ini ketika di akhirat nanti.

21 tahun dipinjami nyawa, saya tersadar bahwa masih sedikit hal baik dan bermanfaat yang sudah saya lakukan baik untuk diri saya maupun untuk orang lain. Saya menyesal, benar-benar menyesal. Mengapa saya tidak menjalani kehidupan saya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat sebelum jatah pinjaman saya berakhir.

Saya tidak mau lagi sekalipun bersifat sombong pada Sang Peminjam dengan bermalas-malas, berpikir bahwa saya masih memiliki jatah pinjaman yang super lama dan panjang. Tidak. Saya tidak mau lagi besar kepala. Sombong membawa saya pada keburukan. Sombong pada Sang Peminjam tidak pernah membawa saya pada keberkahan. 

Dengan ini saya berjanji pada diri saya, bahwa saya harus memanfaatkan sisa pinjaman ini dengan sebaik-baiknya, dengan semaksimal mungkin, hingga ketika pada akhirnya pinjaman saya berakhir, saya dengan ikhlas dapat mengembalikannya pada Tuhan dengan senyum di wajah saya. Menghadirkan ketenangan pada orang-orang yang saya tinggalkan.

***
Hesti Retno Wahyuni

Saya adalah perempuan, yang diberi nama Hesti Retno Wahyuni oleh Bapak saya. Katanya, sih, beliau lihat nama 'Hesti' terpampang di kaca depan bus yang ditumpanginya dalam perjalanan menyusul saya yang kala itu baru saja dilahirkan.

Saya berusia 21 tahun. 5 Juni tahun ini, saya bertambah menjadi 22 tahun. Sedang memulai pekerjaan pertama di sebuah perusahaan jam tangan di Bandung sebagai seorang copywriter dan social media specialist. 

2019 ini, mulai berusaha untuk mengejar semua mimpi yang sudah bertahun-tahun tertunda karena alasan yang berhubungan dengan perkuliahan. Oleh karena itu, saya ingin mencoba semua yang belum pernah saya coba dan menerapkan prinsip YOLO, salah satunya mengikuti arisan godok ini.

0 comments:

Post a Comment