Saturday, 16 February 2019

Satu Saja : Remaja

Halo, guys…

Disini saya akan bercerita sedikit. Tema yang dipakai disini itu ‘Apa Saja’, atau berarti bebas sesuka hati. Tapi sebelum masuk ke cerita, saya kepikiran buat membahas kalimat ‘Apa Saja’ itu sendiri. Entah kenapa sepertinya menarik (bagi saya).

Foto via Pixabay

Oke, kalimat ‘Apa Saja’ itu melekat di kehidupan kita. Kita sering bertanya menggunakan kalimat itu. Misalkan,
‘Apa saja yang kamu lakukan tadi?’
‘Apa saja yang kamu makan?’
‘Apa saja yang sudah terjadi?’

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang kita lemparkan. Atau contoh lain, misalkan kita lagi ngapel sama pacar, terus dia nanya, ‘Sayang, kamu mau makan apa?’ ‘Apa saja, Asalkan berdua sama kamu aku pasti mau’.

Nah, sekali lagi saya bilang, ‘Apa Saja’ itu bebas atau kasarnya terserah. Jadi, di sini saya akan mengubah ‘Apa Saja’ menjadi ‘Satu Saja’. Sesuai dengan judul, satu saja dulu yang akan saya ceritakan dalam bentuk cerpen kali ini.

Mohon maaf, tapi kayaknya pembahasan di atas gak ada faedah sama sekali ya. Tapi gak apa-apa, hitung-hitung membuat jadi lebih pandai menghargai tulisan orang lain. Karena pada dasarnya, semua karya orang itu punya nilai tersendiri yang patut di apresiasi. Saya sengaja memperpanjang tulisan ini biar sampai 600 words atau lebih /bercanda. Hanya memang sengaja pemanasan dulu. Karena semua hal selalu diawali dengan pemanasan dan basa-basi yang padahal sudah basi.

Daripada membahas yang sudah basi, lebih baik langsung baca saja tulisan hasil karya saya ini. Saya memang bukan penulis pro dengan jutaan pembaca, saya hanya pemula yang mencoba untuk melebarkan sayap di dunia menulis.

Remaja, menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa. Pada masa ini manusia tidak bisa disebut dewasa, tapi tidak juga disebut anak-anak. Jadi bisa dikatakan remaja itu masa pertengahan/peralihan. Semua orang juga tahu siapa itu remaja. Remaja itu labil dan caper. Karena saya sendiri juga seorang remaja, saya merasakannya.

Yang namanya remaja itu gak pernah luput dari yang namanya media sosial. Mulai dari Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, Path, dan masih banyak lagi. Hampir semua remaja punya akun medsos itu. Dan saya pun punya. Karena kalau gak punya bakal dikira kudet.

Saya ingin cerita tentang salah satunya; Instagram. Pastinya saya punya akun instagram, nama akunnya @raihanaoct (boleh difollow sekalian, hehe). Instagram itu ‘kan punya fitur baru, yang bisa mengajukan pertanyaan gitu, lho. Dan anehnya itu ya, seharusnya menurut saya fitur itu sendiri digunakan untuk mengajukan pertanyaan yang berguna atau sangat penting dan dibutuhkan. Tapi saya tuh kesel, kenapa gitu temen-temen saya—yang juga remaja—itu malah menggunakan fitur itu untuk nanya ‘aku bukan aku kalau..’, ‘apa aja deh lagi gabut nih..’, atau ada juga yang, ‘main tebak-tebakan kuy’. Apa sih faedahnya kayak gitu? Kadang saya bosen, tiap liat story isinya itu-itu lagi. Jujur saja, saya emang gak pernah main menggunakan fitur itu. Jadi, please… Untuk teman-teman semua pengguna instagram, terutama para remaja, lebih bijak lagi dengan media sosial itu. Media sosial itu bukan cuma tempat buat cari perhatian atau panjat sosial (tapi kadang-kadang saya suka pansos juga sih, hehe), media sosial bisa digunakan untuk menyebarkan hal-hal positif. Ya, itu keluh kesah saya pribadi saja. Apalagi sekarang, pengguna instagram makin beragam dan ‘aneh-aneh’. 

Selain medsos, remaja juga gak luput dari kata ‘Jomblo’. Jomblo tuh spesies apa? Saya gak baca, lagi pake earphone hahaha. Siapa yang sering begitu? Saya juga hahaha. Siapa sih yang gak sebel kalau dibilang jomblo atau gak laku-laku sama teman sendiri? Padahal belum tentu juga dia gak jomblo. Setiap reuni, topiknya pacar, gebetan, atau mantan. Atau setiap kumpul selalu saja ada satu anak bucin yang gak lepas dari kata-kata dramatisnya. Saling mengejek satu sama lain dengan kata jomblo. 

Saya punya grup di WhatsApp, nama grupnya ‘JOMBLO FOR LYFE’. Ketika saya ubah namanya pakai emoji lumba-lumba, saya malah diprotes ‘dikira ini bonbin apa’. Saya tuh gak suka kalau grup itu dinamakan begitu. Karena itu ‘kan sama saja kayak mendoakan diri ini untuk jomblo selamanya. Memang sebenarnya ini hal sepele, sangat sepele. Tapi tidak bisakah kita merubah mindset kita untuk berpikiran lebih terbuka? Mentang-mentang baru putus, beliin anak sembarangan /eh. Mentang-mentang baru putus, langsung curhat gak mau lagi pacaran. Langsung mengimingi gelar ‘jomblo for lyfe’ pada teman yang lain agar tidak usah terjerat dengan kata cinta. Katanya pacaran bikin sakit hati saja. Eh gak taunya, dua bulan kemudian sudah gandeng pacar baru lagi. Kemana kata-katanya waktu lagi patah hati? Kita ini remaja labil yang masih dibawah umur. Kita masih pelajar, waktunya untuk belajar. Belum waktunya untuk menangis karena diputusin pacar, belum waktunya untuk sakit hati karena ditikung sahabat sendiri. Kalau ibarat kata orangtua ‘masih bocah bau kencur’.

Kata jomblo itu gak harus membuat kita jadi kecil hati. Jadi jomblo itu lebih enak padahal. Hemat uang, terhindar dari zina, dan bebas. Jomblo itu lebih aman, dan gak nambah dosa pula. Kalau gak mau ‘nge-jomblo’, lebih baik langsung menikah daripada pacaran (tapi kalau sudah cukup umur ya). Jomblo Keep Spirit!!! Jodoh akan datang pada waktunya, jodoh sudah diatur oleh yang diatas. Jadi jangan pedulikan orang-orang yang menghina kita karena jomblo. Jomblo itu mulia.

Waktu berkumpul sama teman dan sahabat itu sangat berharga. Kita bisa kangen-kangenan, saling cerita hal-hal baru, atau main bareng. Di dunia ini banyak topik yang masih bisa dibahas. Daripada terus menerus membahas tentang pacar dan semacamnya yang tak akan ada habisnya. Lebih baik bahas yang lebih bermanfaat, seperti topik tentang masalah sosial. Kita harus belajar berpikir kritis. Remaja di era teknologi seperti ini tuh sangat sulit untuk mengajaknya lebih maju membawa perubahan. A better chance that changes the world. Kebanyakan remaja lebih sering menggunakan waktunya untuk lebih eksis dan narsis, lebih update biar gak dibilang kudet. Jadi untuk teman-temanku sekalian para remaja generasi harapan bangsa, mari tingkatkan prestasi yang membanggakan. Ayo bawa perubahan untuk dunia (jangankan dunia, negara saja kayaknya masih berat). Intinya, bangkitlah remaja-remaja Indonesia!!!!

Sudah cukup sampai sini saja tulisan saya kali ini, saatnya kita tutup. Kita hanya perlu saling introspeksi diri saja. Jangan saling menyalahkan atau menyudutkan, karena semua manusia tidak ada yang sempurna. Cukup perbaiki diri tanpa perlu menghakimi orang lain.

Mungkin karya saya ini, bukan yang pertama dikirim dan dibaca. Tapi saya harap karya tulisan ini bisa bermanfaat dan disukai banyak orang.Jangan lupa ABC,
A, Ambil hikmahnya
B, Buang buruknya
C, Cukup sekian dan terima kasih
Sampai jumpa lagi, guys…

***

Raihana Octaviani Irwanda

Perkenalkan, nama lengkap saya Raihana Octaviani Irwanda. Umur saya baru 15 tahun. Saya sekolah di SMA Istiqaman Bandung, kelas X IPA. Saya anak IPA, tapi hobinya menulis daripada menghitung angka-angka yang bikin pengen gumoh. Saya lahir di Bandung, 25 Oktober 2003. Sumuhun, abdi teh urang Sunda. Tujuan saya ikut arisan godok.id ini buat cari pengalaman aja. Ya kalau terpilih juara juga Alhamdulillah. 

0 comments:

Post a Comment