Sunday, 17 February 2019

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Anggun Ahsani Taqwin)

Hay 2019, apa kabarmu? Aku berharap akan baik-baik saja.

Aku ingin bercerita padamu karna aku tak tahu pada siapa akan ku kadu keluh kesahku. Apa salah dan dosaku hingga usiaku 22 penuh dengan drama, Aku tak pernah membayangkan bahwa angka itu penuh cerita yang mungkin kutuliskan di sebuah buku mungkin tak sanggup orang-orang membaca dan jika kubuatkan film mungkin terlalu lama durasinya. 

Foto milik PXhere

Setiap awal tahun aku berharap akan baik-baik saja tapi sayangnya malah kebalikannya,Semua dimulai dari setelah lulus SMA aku selalu meneguk hal yang tak pernah aku rasa merasakan tak pernah lulus-lulus masuk universitas  semua seleksi ku tempuh tapi sayang tak kunjung lulus hingga aku mengulang nya lagi di tahun kedua tapi lagi dan lagi kata gagal itu datang lagi hingga membuat aku menyerah akan tetapi hinaan cacian dan hujatan aku terima dari yang tak ku kenal sampai dengan keluarga hingga membuat aku berkata jangan pernah menyetah yah dan akhirnya akupun kuliah di salah salah satu universitas tak ternama di pulau sumatra jauh dari rumah atas usulan dari salah satu keluarga sungguh tak di sangka-sangka ternyata uang kuliahnya amatlah gila tapi sayangnya aku mengetahui itu ketika sudah menjalani kehidupan kampus dan akupun terus berfikir positif. 

Di tahun kedua tak ku sangka januari membawa kabar duka salah satu orang yang paling berjasa meninggal dunia yakni IBU, tak pernah terbayangkan di benakku bahwa aku akan menjadi anak piatu, akupun mulai menyerah lagi untuk kuliah karna aku tak akan sanggup meninggalkan rumah karna dirikulah anak satu-satunya perempuan di rumah dari 4 bersaudara tapi kata-kata ayah meyakinkan semua akan baik-baik saja tapi bodohnya aku percaya hingga libur kuliah lebaran pun tiba, dijemput oleh abang dan ayah tapi dengan kendaraan yang berbeda membuatku menitikkan air mata hingga tangisku pecah saat sampai di rumah bagaikan gudang yang tak pernah di jamah tapi tangisan itu tak pernah aku tampakkan di wajah karna jika itu terjadi ayahlah yang paling menderita karna melihat satu-satunya anak perempuannya menangis. 

Lebaran pertama tampa sosok ibu membuat semua berduka tak ada tawa ataupun senyum bahagia bahkan ayah menitikkan air mata di malam takbit dan abang meniktikan air mata di pagi hari lebaran akupun tak sanggup melihatnya tapi bodohnya aku, aku tak bisa berbuat apa-apa hingga lebaran pertama tampa ibu membuat kami semua hampa. 

Akhir tahunpun aku mendapat kabar dari ayah bahwa ayah mau menikah tampa tau siapa dan bagaimana rupanya seketika aku mendapat kabar itu seolah hancur sudah otak dan hatiku aku hanya tau kabar ketika ayah sudah mau menikah, dengan raut wajah pasrah aku izinkan agar ayah dapat bergairah hidupnya dan semenjak ayah menikah ayah sering tertawa bahagia walaupun anak-anaknya menangis di dada. 

Libur kedua ayah akhirnya menikah dan semenjak itu rumah bagaikan tak berpenghuni abang yang sudah jarang dirumah karna kurang menyetujui pernikahan ayah, adik yang pertama yang sekolah jauh dari rumah yang mengharuskan ia ngekos, Ayah yang sering tidur di rumah istri barunya hanya akan pulang di setiap pagi subuh dan terkadang hanya kami berdua aku dan adik terakhirku yang tidur dirumah, kami layaknya orang yatim piatu yang tinggal berdua. 

Libur di tahun ke tiga kuliah hal serupa terjadi aku mengetahui kabar bahwa ibu tiri ku hamil tapi sayang seribu sayang aku mengetahui itu semua tak dari mulut ayah tapi dari gunjingan orang orang yang membuat telingaku begah, aku sabar menunggu untuk ayah mengabariku hal itu tapi sayang tak kunjung jua hingga akhirnya aku bertanya pada ayah tapi jawaban yang aku terima ia terdian cukup lama hingga akhirnya mengalihkan pembiacaraan dan tahun ke empat kuliah seorang bayi lahir jika biasanya kelahiran bayi membawa bahagia tapi tidak kali ini rasanya ingin mati saja karna bertambah lagi beban di keluarga ini.

Aku tak mengerti apakah ini semua cobaan tak hentinya menerpa keluarga ini,komunikasi adalah hal yang jarang terjadi hingga satu sama lainpun tak mengetahui aktifitasnya sehari hari,apa yang salah di keluarga ini.

Hay Aku di tahun 2019.

Jangan diam lagi seperti di sekolah yang banyak peraturannya mulailah berkreasi karna hiduf ini seni bukan aturan yang harus dipatuhi mulailah membenah diri,mulailah berpikir, mulailah bertanya, dan mulailah bertindak karna diam tak menyelesaikan masalah dan diam tak membuat keadaan akan jadi indah. Diam hanya akan mrnambah beban dan diam hanya akan memberatkan tantangan.

Hay aku di tahun 2019.

Jangan lagi diam yah.

Ingat dunia tak akan menolongmu jika kamu hanya diam.

Ingat tuhan tak akan tau jika kamu hanya diam padanya.

Dan ingat tak akan ada yang berubah jika kamu hanya diam saja.

***
Anggun Ahsani Taqwin

Penulis bernama Anggun Ahsani Taqwin kelahiran 7 november 1996 di desa P.aro yang  berada di Provinsi Jambi. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Bung Hatta yang berada di Sumatra Barat. Penyuka warna kuning ini mulai menyukai hoby tulis menulis salah satunya puisi, terinspirasi oleh sosok Bung Hatta dengan berbagai tulisannya.

0 comments:

Post a Comment