Sunday, 17 February 2019

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Nahdiana Dara)

Sepuluh tahun kemudian Anda ingin menjadi apa?

Jawab: 

Apa rencana Anda untuk sepuluh tahun kemudian?

Jawab:

Tips: Jika semua terwujud, tulis lagi rencana Anda untuk 10 tahun kedepan.

Foto milik pxhere

Tulisan di atas aku temui di buku pelajaran konseling sewaktu kelas 9 SMP dulu. Ingat banget membaca kalimat itu membuatku mengerutkan kening. Sepuluh tahun kemudian? Memangnya aku bakal jadi apaan? Memangnya cita-citaku akan tetap? Apa itu semua menjamin? Apa tidak sakit rasanya kalau semua tak terwujud? Apa keadaan ekonomi Indonesia tidak mempengaruhi masa depanku? Apa aku akan berhenti menghabiskan tabungan untuk membeli buku jika aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan 10 tahun kemudian? Ya mungkin saja sih... tapi balik lagi, apa masa depan akan terjamin?

Ada lagi obrolan dengan teman yang tidak terlalu dekat tentang rencana “10 tahun kedepan”. Mendengarkan rancangan untuk mewujudkan cita-cita mereka membuatku melongo. Bukannya membuatku minder karena aku tahu diri, sebab yang aku tanyai adalah teman yang selalu ranking teratas di sekolah. Tentu saja dia bahkan dengan campur tangan orang tuanya yang mengetahui bakat akademinya itu sudah membuat rencana-rencana hebat tersebut.

Terkadang jika aku berkumpul dengan sahabat-sahabatku dan membicarakan tentang masa depan, kami hanya berani membuat rencana minimal setahun kemudian, maksimal tiga tahun kemudian. Untuk membuat rencana 10 tahun kemudian menurut kami yang sudah merasakan realita kehidupan yang keras ini tampaknya tidak terlalu berfaedah. Terlalu halu kalau sekarang ini nyebutnya. Sudahlah, jalani saja.

Jika aku mengingat alasan guruku dulu menyuruh kami membayangkan sebuah cita-cita, sebuah rencana, untuk diriku sendiri yang paling takut bermimpi terlalu tinggi ini, 10 tahun adalah jangka waktu yang terlalu lama. Kenapa tidak menulis rencana mau SMA di mana? Atau hal baik apa yang akan Anda lakukan di hari ulang tahun Anda? Ingat, Anda semakin tua jadi harus menjadi orang yang lebih baik lagi. Jangan nambah dosa!

Untuk merencanakan hal-hal seperti itu yang memiliki jangka waktu dekat bukan kah akan lebih fokus nantinya?

Di saat aku yang sudah berusia 20-an tahun ini mengingat kejadian 10 tahun yang lalu itu, kok, lucu ya? Tiba-tiba sudah tahun 2019, tiba-tiba aku sudah melakukan sesuatu yang remeh tapi menyenangkan untuk diriku sendiri, tiba-tiba, dalam sekejap mata, seperti badai setiap sore yang melanda Sidoarjo, semua itu seperti genangan air yang tenang, seperti aspal yang lama-kelamaan mengering juga.

Ya, begitu saja!

Dari tahun-tahun sebelumnya, aku ingat selalu membuat resolusi. Tercapai? Tentu. Tapi tak semua. Ada tahun baik, tahun terparah, tahun datar-datar saja. Lalu tahun ini, di 2019 ini, aku harap menjadi tahun yang stabil namun lama-lama menukik ke atas karena perubahan diriku yang semakin produktif.

Buat aku, hey, kau sudah berjuang keras. Membuat jadwal-jadwal dan list-list yang tidak pernah kau lakukan sebelumnya. Menemukan hal baru di tahun kebelakang ini. Menemukan kebahagianmu sendiri.

Aku bahagia untukmu hey, diriku, karena mulai lebih memperhatikan diri sendiri. Menyenangkan diri sendiri, melakukan hal-hal sendiri tapi tetap bahagia. Bahkan tersenyum pada orang asing hanya karena tidak sengaja saling bertatap mata. Ya meskipun malah diacuhkan juga haha...

Hal-hal kecil itu semoga bisa membuatku di tahun 2019 ini menjadi orang yang semakin tenang, tidak gampang termakan hoax, isu, konspirasi. Menerima saran orang dengan lapang dada, tidak gampang marah karena hal-hal remeh seperti diremehkan seseorang. Hindari berdebat dengan orang bodoh, orang sok tahu, dan jenis orang-orang yang terlalu suka mengusik hidup orang lain.

Tersenyum saja. Dan tak kan mengambil hati perkataan mereka.

Jadi, jika aku harus mengulang 10 tahun yang lalu saat kelas 9 SMP, mungkin di samping aku menulis cita-citaku yang ingin jadi penulis dan bisa berkuliah, aku akan menambahkan untuk bisa lebih mencintai diriku sendiri.

Di tahun 2019 ini, mencintai diriku sendiri sangat penting. Di usiaku yang hampir pertengahan masa 20-an ini benar-benar harus aku perhatikan bagaimana perasaanku sendiri, sehingga aku pun juga bisa memperhatikan sekelilingku dengan lebih baik dan lebih peka lagi.

***
Nahdiana Dara

Gadis berumur kepala dua. Selalu suka menulis hanya untuk melarikan diri sampai menemukan jati diri.

0 comments:

Post a Comment