Sunday, 17 February 2019

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Philia Turnip)

Hallo, bagaimana kehidupan saat menjalani tahun ini? Tidak terasa, kini  2019 sudah berada di ujungnya. Ketika melihat ke belakang, waktu terasa berjalan begitu cepat. Namun pada saat menjalaninya, waktu malahan merangkak dengan lambat. Entahlah apakah itu hanya perasaanku saja ataukah semua orang memiliki pemikiran seperti demikian.


Foto milik Inovasee

Pada awal tahun ini, kabarku baik-baik saja. Oh ya, sama seperti tradisi kebanyakan orang, akupun melakukan hal yang sama. Aku menuliskan beberapa resolusi yang berupa target pencapaian tahun ini. Ketika aku sedang menuliskan surat ini, aku masih berpatokan pada idealismeku. Maksudku adalah memiliki optimis yang kuat bahwa aku dapat melakukan resolusi tersebut dengan sempurna. Maklum saja, karena baru melewati tahun baru, jadi nuansa untuk memperbaiki diri masih melekat erat. Entahlah, apakah semangatku ketika menulis surat ini pada awal tahun, masih sama saat engkau membaca surat ini di penghujung tahun?

Surat ini kutulis bukan tanpa tujuan. Karena kau tau kan, bahwa aku tidak seromantis ini untuk mengirimimu surat sepanjang ini. Maka, tolong buang jauh-jauh pemikiranmu bila kau rasa, aku hanya menyia-nyiakan waktumu untuk membaca ini semua. Tidak. Aku sama sekali tidak bermaksud mengguruimu atau merasa lebih baik darimu. Aku hanya ingin menyampaikan suatu pemikiran dan kurasa penting untuk berbagi denganmu mengenai hal ini. 

Apabila di awal tahun, kita selalu sibuk dengan segudang resolusi, lantas kapan waktu yang tepat untuk intropeksi diri? Bukankah lebih baik berfokus untuk membenahi diri sendiri daripada sibuk menghitung resolusi apa saja yang tercapai? Kuharap beberapa pertanyaan ini bisa menuntunmu untuk melakukan refleksi. Semacam kegiatan menelusuri ingatan dalam tahun ini dan berdebat dengan diri sendiri. Sebenarnya, pertanyaan yang kuajukan ini, akan menyita banyak waktumu. Namun, kuharap engkau tidak keberatan, dan tetap memikirkannya dengan matang. Coba kau hitung dalam tahun ini, ada berapa banyak rencana yang tidak terlaksana, berapa banyak janji yang tidak kau tepati, atau bahkan berapa banyak angan yang dipaksa mengendap sebelum ia sempat diperjuangkan?

Pertanyaan selanjutnya yang patut kutanyakan untuk kau jawab adalah perihal beberapa kebiasaan yang menyangkut sifatmu. Maaf bila aku terkesan kepo, tapi ini adalah salah satu aspek penting dalam pertumbuhan karaktermu. Bagaimana mengenai teman-teman kantormu yang baru? Relasi seperti apa yang kau bangun dengan mereka? Masih mudah ilfeel kah? Atau masihkah engkau dengan gampangnya menghakimi orang tanpa suatu pendekatan yang tepat? Ingat, hal tersebut adalah salah satu resolusimu bahwa engkau akan belajar mengontrol perkataanmu mengenai seseorang ataupun suatu keadaan. Lalu, apakah kau sudah berhasil membungkam omonganmu agar tidak dengan mudahnya mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar? Seharusnya sih engkau semakin hari semakin baik mengelola emosi ya, kalau tidak, malu dong sama usia.

Bagaimana pola makan? Pola istirahat dan olahragamu? Berat badanmu masih dalam kategori ideal, kan? Kesehatan adalah yang terpenting. Jika tubuh sehat, maka bisa melakukan pekerjaan dengan maksimal. Jangan bosan-bosan menerapkan gaya hidup sehat, ya. Ingat, kurangi kafein. Jangan keseringan nongkrong di kedai kopi, berhematlah. Tabung uangmu untuk pulang ke Kalimantan mengunjungi orang tuamu pada liburan akhir tahun ini.

Oh ya, pasanganmu sudah ada? Ah, kalau itu tidak perlu dijawab juga tidak apa-apa. Walaupun aku tau, jika kau belum memiliki pacar, kau akan merasa baik-baik saja, ingatlah bahwa orang tuamu terus mendoakan pasangan yang terbaik untukmu. Meski doa punya kuasa, kau juga perlu berusaha untuk menambah relasi dan cobalah berkenalan dengan orang baru. Jangan terlalu menutup diri untuk laki-laki. Tidak semua laki-laki itu sama dengan seseorang di masa lalu mu, kok.

Sebagai penutup suratku ini, ingatlah untuk mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya kepada Sang pemberi napas kehidupan. Mengenai pasang-surut ataupun naik-turun kehidupan, itu adalah hal yang biasa. Jangan pernah iri atas pencapaian orang lain. Karena hidup adalah perkara berkompetisi dengan diri sendiri.

Dari ku,
Dirimu di awal tahun 2019
Teruntuk mu,
Diriku di akhir tahun 2019

***
Philia Novi Tiurma Turnip

Kelahiran 24 November 1994 di Pemangkat, Kalimantan Barat. Merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ini sedang bekerja di salah satu sekolah swasta yang berada di kota Manado.
email : philiaturnip@gmail.com
Akun ig : @philiaturnip

0 comments:

Post a Comment