Saturday, 16 February 2019

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Raihana Octaviani)

Teruntuk aku, di tahun baru 2019.

Apa kabar? 

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku tahun depan. Itu semua pasti rahasia Allah Swt. Apakah aku masih cukup sehat dan kuat untuk berpikir? 

Foto via Pixabay

Apakah aku masih punya semangat untuk rajin belajar? 

Apakah aku masih bisa melihat dengan jelas masa depan yang akan datang? 

Tahun depan, jangan terlalu memikirkan tahun ini yang sudah lalu. Cukup ingat hal-hal baik yang terjadi sekarang. Biar kenangan yang buruk berlalu menjadi kelabu. Tapi jangan sepenuhnya melupakan masa sekarang juga. Karena di tahun depan aku adalah cerminan dari aku sekarang. 

Aku tidak tahu apakah aku masih bertahan nanti, karena jika tidak, maka usahaku sekarang sia-sia saja. Jadikan tahun ini sebagai pelajaran dan pengalaman untuk menjalani hidup di tahun depan.

Untuk aku di tahun 2019, banyak-banyaklah tersenyum dan tertawa. Jangan terlalu jutek jika bertemu dengan orang-orang baru. Rajinlah belajar untuk meningkatkan prestasi yang membanggakan. 

Jangan lupa banyak minum dan olahraga karena diriku yang sekarang sangat ingin punya tubuh ideal di tahun berikutnya. Tapi sepertinya tanpa olahraga pun aku bisa kurus karena stres belajar hahaha. Aku tidak tahu apakah hobiku masih sama nanti. 

Akankah aku masih menulis cerita untuk dipublikasikan? Semoga saja masih. Karena sekarang mood-ku sedang sangat baik untuk menulis. Aku berharap nantinya, skill menulisku akan meningkat lebih baik lagi. Semoga diksiku menjadi semakin indah dan berkesan.

Jangan mudah percaya oleh perkataan orang lain. Karena orang yang kita percaya juga kadang-kadang mematikan. Lain di mulut lain juga di hati. Dalamnya lautan bisa diukur, tapi hati manusia yang tahu? Carilah teman yang sungguh-sungguh memperlakukan diriku dengan baik. 

Abaikan saja teman yang hanya mencari sensasi. Dan juga tentang pacar, tidak usah terlalu dipikirkan. Aku masih remaja dibawah umur, belum waktunya. Tidak usah berkecil hati melihat teman-teman saling memamerkan pacarnya. 

Ada satu hal yang paling penting juga, agama. Agama itu prioritas. Tahun depan nanti harus lebih rajin beribadah, minta segalanya kepada yang Maha Kuasa. Kebutuhanku masih banyak, keinginanku macam-macam. 

Jadi rajin-rajin berdoa dan beribadah kepada-Nya. Raihlah keridhaan-Nya, karena kalau Ia tidak ridha, aku tidak akan mendapatkan  bahagia di dunia fana ini.

Terkadang aku yang sekarang ini suka berdiam diri di bawah langit malam. Mengambang dalam kesenjangan malam dengan sejuta tanya. Menerka apa yang kiranya akan terjadi di masa mendatang. Langit malam sekarang lebih sering kelabu. Tanpa bulan dan bintang yang bertebaran. Hujan lebih sering turun dengan derasnya. 

Terkadang ditemani riuhnya suara gemuruh halilintar. 

Jadilah seperti matahari. Walaupun sendirian, dia tetap bersinar. Jika gagal sekali, maka bangkitlah dan coba kembali. Aku pasti akan bangkit dan jatuh, aku pasti lelah, dan pasti akan membuat kesalahan. Tapi itulah pelajarannya, jangan buat kesalahan yang sama lagi nantinya. 

Buatlah keputusan dengan sematang-matangnya agar tidak jatuh di lubang yang sama. 

Aku selalu berdoa untuk kesuksesanku di masa depan. Aku ingin masa depanku cerah dan terjamin. Lakukanlah hal-hal positif yang bermanfaat bagi orang banyak diluar sana. Jangan membuat orang lain kecewa dan cemas.

Turuti dan patuhlah pada orangtua. Mereka juga sama inginnya menyaksikan aku berhasil. Berusaha agar mereka tetap tersenyum melihat perkembangan diriku. Mereka juga selalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatanku di dunia. 

Tiada hentinya doa dikirimkan ke atas hanya untukku. Jangan buat mereka khawatir. Semakin hari mereka semakin tua, rambutnya sudah mulai memutih. Tubuhnya juga sudah tak sekuat dulu lagi, tapi mereka masih tetap berjuang untuk menghidupiku dan keluarga.

Sebenarnya aku sangat ingin membuat surat untuk aku di masa lampau juga. Tapi sayangnya di dunia ini tidak ada mesin waktu untuk mengirim surat tersebut.  Jadi, intinya dari surat ini, baik-baiklah dalam berperilaku, tatakrama adalah yang penting. Jangan buat diriku terlihat remeh dan buruk di mata orang lain. Terus semangat dan berjuang untuk mencapai semua yang diinginkan. 

Terima kasih sudah menjadi konsisten. Semoga nanti aku masih sehat. Sampai junpa di tahun berikutnya.

Dari aku, tahun 2018.

***

Raihana Octaviani Irwanda

Perkenalkan, nama lengkap saya Raihana Octaviani Irwanda. Umur saya baru 15 tahun. Saya sekolah di SMA Istiqaman Bandung, kelas X IPA. Saya anak IPA, tapi hobinya menulis daripada menghitung angka-angka yang bikin pengen gumoh. Saya lahir di Bandung, 25 Oktober 2003. Sumuhun, abdi teh urang Sunda. Tujuan saya ikut arisan godok.id ini buat cari pengalaman aja. Ya kalau terpilih juara juga Alhamdulillah. 

0 comments:

Post a Comment