Sunday, 17 February 2019

Surat Untuk Rahma

Kepada
Yang tersantai di dunia
Makhluknda Rahma

Salam orang bumi,

Rahma, bagaimana kabar hari ini? Kalau jawabanmu masih seperti kemarin, lebih baik kamu bergegas mandi. Makhluk langit sudah bosan melihatmu terlalu intim dengan pakaian yang itu-itu saja. Namun juga, kami tetap mendoakanmu dari sini soal kesehatanmu. Kami semakin khawatir dengan kulitmu. Garukan demi garukan yang membuatnya mengelupas dan berdarah, lama-lama akan membekas. Persis seperti celotehan bosmu yang memecatmu tiba-tiba dua tahun lalu. Boleh saja hatimu luka, tapi kulitmu jangan. Merawat kulitmu sama saja dengan kau menghargai jerih payah kami makhluk langit yang menciptakanmu dengan kulit secoklat itu.

Foto via Pixabay

Makhluknda, masksud kami menulis surat untukmu adalah karena rasa sayang kami kepadamu. Kami makhluk langit kadang-kadang kangen dengan kalian orang-orang bumi. Hanya saja mereka tidak pernah menyadarinya. Kami tidak butuh yang berlebihan. Sekedar telepon atau sms di tengah malam sudah sangat membuat kami bahagia. Di waktu itu, kalian sedang punya diskon pulsa telepon, dan kami pun sedang bangun siap-siap mau turun ke bumi. Maksud hati menyapa kalian, apa daya kalian lebih mencintai mimpi-mimpi dari para syetan. Kalian tidak pernah sadar, seandainya rasa kangen kami sudah kebangetan, lalu kalian kami jemput pulang, bagaimana? Kan kalian tidak akan bisa menolak. Bangunlah, Nak. Ini sudah tahun 2019 di bumi kalian. Ayok kita ngobrol malam-malam. Terserah kamu mau minta apa, kami punya semuanya. Coba lupakan saja siapa-siapa di bumi sana yang pernah membuatmu kecewa, meskipun kamu pernah membantunya dengan rela. Biarkan, itu akan menjadi urusan kami dengannya.

Rahma, kembali lagi ke soal bersih-bersih. Sampai kapan kamu mau santai tidur bersama tumpukan baju. Meskipun itu bersih, hanya belum dibuat rapi dengan besi panas yang kalian gunakan untuk menindas licin si pakaian, tetap saja dari atas sini kamu terlihat kumuh karena tidur bersama tumpukan baju. Kadang-kadang beberapa helai kaos oblong tertarik jempol kakimu dan menyelimuti sebagian betismu dari gigitan nyamuk. Kami ini kasihan melihatmu terus begitu. Tapi ya itu tadi, mau kami ajak pulang, kamunya belum tentu mau. Mulailah rapi-rapi sedikit saja. Coba mulai dari kamarmu sendiri. Kamu jangan beralasan alergi lalu malas tebas-tebas kasur. Semakin kamu biarkan, deu-debu itu akan semakin melekat di badan. Ditambah lagi, kamu jarang mandi. Pantas saja kulitmu gatal-gatal. Akhirnya garuk-garuk. Memangnya kamu tidak bosan bolak-balik ke tabib kulit sebulan sekali. Coba hitung, sekali pergi minta racikan tabib kulit, kamu bawa beberapa lembar kertas warna merah, entah apa namanya, dan kamu berikan begitu saja beberapa lembar. Sudah berapa tahun kamu lakukan itu?

Makhluknda yang benar-benar kami sayang, kami tahu persis isi hatimu, Nak. Kamu menjadi begini sejak sang juragan memecatmu dengan tiba-tiba dua tahun lalu. Kejadian waktu itu pasti membekas. Kami lihat dengan seksama dan teliti dari atas sini. Kamu seharusnya tidak usah khawatir. Walaupun juraganmu waktu itu berkilah lihai sekali dihadapan para hakim dunia, tapi kami cuma geleng-geleng kepala. Kami juga punya rasa marah melihat juraganmu, yang lahir dari tangan kami juga, semakin tua semakin pandai lagak bicaranya. Kamu harus sabar, meskipun para hakim dunia lebih mencintai harta dari pada kebenaran yang nyata. Kamu harus tenang, meskipun semua yang kamu bangun sejak lama hilang begitu saja karena kamu harus mengalah sama penguasa. Dan kamu juga harus terima, kalau di dunia sana, kamu tidak mau mengikuti maunya penguasa dan hakim-hakim suruhannya untuk berdusta, sehingga harus kamu yang masuk ke balik benteng perumahan candradimuka. Kami baca dari atas sini, mereka sekarang bukan lagi memanggilmu dengan nama Rahma, tetapi si narapidana. Ingat, kamu jangan balas tangan mereka dengan tanganmu sendiri. Kamu tidak akan bisa. Itu berat, biar kami saja. Kalau kamu tidak percaya, sama saja dengan kamu tidak percaya kalau kami makhluk langit maha segalanya. Bukankah kami sudah berkali-kali bilang di dalam kitab yang tergeletak di samping tempat tidurmu, kalau kekuatan kami ini maha dahsyat. Namun hanya mereka yang berpikir yang akan mempercayainya. Semoga kamu masih termasuk ke dalam golongan orang yang berpikir.

Makhluknda Rahma, lihatlah tulisan ini. Sekalipun mereka memanggilmu narapidana, kami makhluk langit tetap memanggilmu dengan nama yang kamu suka. Nama yang ibumu berikan waktu itu. Oiya, kami lupa berkabar, ibumu sehat, Nak. Dia ada disini bersama kami. Setiap pagi dia berkebun merawat bunga-bunga anggrek bulan kesayangannya, sembari sesekali minum air teh dengan pemanis madu. Sama persis seperti yang dilakukannya dulu ketika kalian masih bersama. Hanya bedanya, ibumu sekarang lebih bahagia. Dia hanya sekali menangis ketika melihatmu memasuki gerbang candradimuka waktu itu. Tapi tidak lama, dia kembali tersenyum sambil melihat ke arah kami. Lihat, ibumu saja sangat yakin kami akan menjagamu dimanapun kamu dtempatkan. Masa kamu tidak?

Rahma, sudah dulu ya. Kami mendapat tugas dari sang maha kuasa untuk menjemput beberapa teman dan saudaramu pulang. Kami harus berkeliling. Satu hal, jangan sampai, ketika kami harus menjemputmu nanti, kamu dalam keadaan bau dan tidak ganti baju. Biasakan mandi, karena kami bisa membedakan kebersihan badanmu dari atas sini, apalagi ketika kamu mencoba menelepon kami. Kami tidak akan mengangkat teleponmu kalau kamu kotor. Mandilah, Nak. Ganti baju. Mulai sekarang tak perlu lagi kamu pedulikan apa yang orang bicarakan tentang dirimu. Lidah mereka, seperti halnya hatimu juga, semua diciptakan di rumah kami. Mereka tak berhak menghakimi, kamu pun tak berhak untuk membalasnya. Kami masih sayang sama kamu. Dan atas permintaan ibumu yang disetujui oleh sang maha kuasa, kami sedang mengetuk pintu hati seorang anak soleh, rupawan, dan dermawan. Dia akan kami utus untuk menjadi sahabatmu sehidup semati sesurga. Dia akan segera hadir dihadapanmu, maka bersiaplah. Sambutlah dalam keadaan sudah mandi dan wangi. Hidup bersamalah kalian dalam kedamaian di bawah naungan pedoman-pedoman sang maha kuasa. Cukup itu saja, biar kami yang atur sisanya.


Salam dari Nirwana.
Kami tunggu teleponmu setiap tengah malam.

***

Rahma Ariani Roshadi

Akun IG : @rahma_roshadi
Akun FB :Alina (Rahma Roshadi)
Blog  : www.rahmareborn.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment