Sunday, 17 February 2019

Tak Seindah Postingan Media Sosialmu

Saat mengenal orang baru sekarang ini mencarinya di sosial media begitu mudah. Yang penting kamu tahu nama lengkapnya siapa, bisa tuh kamu cari di daftar nama kelas, atau buku tahunan kalau kamu tiba-tiba kepo bagaimana kabar teman satu sekolahmu dulu. Menulis nama lengkap adalah satu-satunya cara untuk ditemukan. Ya daripada memikirkan nama-nama samaran yang mungkin keren, tapi nggak tahunya beberapa waktu kemudian bakal terlihat lebay. Orang-orang akan bertanya-tanya kenapa pakai nama samaran? Memang tidak bersyukur dengan nama yang diberi orang tua? Maka nama lahir itu lah yang menjadi identitas diri di dunia maya.

Foto milik Pixabay

Media sosial dan kehidupan nyata yang bercampur menjadi satu membuat orang lain akan semakin mudah mengenalmu. Yang sudah lama tak bertemu jadi tahu kalau statusmu sekarang berpacaran dengan orang yang dulu kamu tolak karena belum se-famous¬ sekarang yang sudah punya pengikut lebih banyak dari kamu di internet. Yang belum pernah ketemu sama sekali jadi tahu bagaimana buruknya kamu diuji sama dosen pembimbing dan sekarang lagi asik makan-makan buat ngerayain temanmu yang sudah lulus sidang duluan.

Seringnya kamu memposting, sharing kegiatan yang bagimu penting tapi bagi orang lain hanya sekadar swipe-swipe ke samping layar dengan mudah, membuatmu kecanduan.

Aku pernah lihat kecanduan ini yang membuat orang lain heran, terutama aku, bertanya-tanya, ngapain buk? Anaknya cuma lagi berdiri di depan lift, sebelum masuk di rekam dulu. Ibunya berkata dengan nada manis keibu-ibuan, “Kita sekarang lagi di mall nih, adek mau naik lift.” Buk! Saya juga mau naik lift, kok gak direkam?! Setelah itu pintu lift terbuka dan si ibu saking keasikan ngeposting bikin-bikin caption dan ngetag location sampai gak sadar anaknya belum masuk gara-gara kedesak mundur sama orang-orang yang baru aja keluar lift.

Lagi-lagi ibu-ibu nih, dalam sehari ada dua ibu-ibu yang makan cuma sama satu anaknya. Jadi entah kenapa mereka melakukan hal yang sama padahal waktunya beda, satunya sore satunya agak maleman, bawa makan ke meja, anaknya makan, si ibu mainan hape dulu, terus ngerekam makanan dan anaknya atau ngefoto ntahlah. Asik ngetik-ngetik buat caption setelah itu makan sambil natap hape terus... untung kedua anak yang tak saling mengenal dan muncul di hadapanku di waktu berbeda ini sama-sama pinter, makan sendiri tanpa ganggu ibu mereka.

Sebenarnya banyak sih anak muda juga seperti ini, tapi entah kenapa hari itu yang aku lihat betah megang hape dari pada tangan anak mereka itu para ibu-ibu muda cantik yang kalau gak pakai Iphone, pakai OPPO yang hasil fotonya bakal bagus sehingga di sosial media mereka terlihat jelas kalau memang sedang bersama anaknya. Tapi, apa benar sang anak merasakan kehadiran sang ibu?

Tidak sebijak postingan kata-kata penyemangatmu di sosial media, padahal itu secara halus kamu hanya mau mengeluh tapi tak mau dicap sebagai tukang ngeluh. Jadi apa? Kata-kata sabar dan ingat Tuhan di tulis besar-besar, backgroud warna hijau biar terkesan teduh. Padahal orang yang tahu keadaanmu sebenarnya yang suka mengeluh hanya menertawakan kebijaksanaanmu di sosial media.

Bukan bohong, hanya sedikit memuntirkan kata-kata di dalam klarifikasi captionmu kalau kamu tidak salah, atau merasa bersalah tapi sepenuhnya bukan salahmu sehingga kehebohan-keheboan viral di circle teman-temanmu semakin seru. Mereka bingung siapa yang benar dan siapa yang dengan bodohnya membuat dirinya sebagai seorang korban, yang tidak berani mempertanggungjawabkan sikapnya karena semua sudah tertutup oleh rumor-rumor dan bukti yang sudah tercampur aduk di dunia maya. 

Lalu, sosial media dijadikan lahan apa dong kalau bukan untuk pamer dan berkeluh kesah?

Itu kan yang jadi pertanyaan di tengah-tengah curhatan penulis yang miris dan sedikit demi sedikit terkikis rasa simpatiknya ini?

Sosial media digunakan untuk apa kalau bukan untuk pamer dan berkeluh kesah? Ya jawabannya, tentu untuk pamer dan berkeluh kesah dong!

Hanya saja jika kamu pembaca setia sampai akhir paragraf mengerti apa arti pamer yang baik dan berkeluh kesah yang benar dan tahu batasnya pasti sekarang adalah orang yang sudah mengurangi yang namanya sharing kehidupan pribadi di sosial media. Hanya sekadara berbagi info-info penting, atau tidak penting tapi lucu, bisa juga tentang hal-hal indah dikehidupanmu yang benar-benar perlu untuk diabadikan.

Masalah baik buruknya postinganmu mungkin hanya bisa dinilai oleh orang lain karena kamu tak terlalu peduli dengan gunjingan-gunjingan itu.

Tapi balik lagi, itu lho, postingan di media sosialmu apa memang seindah itu bagi orang lain yang sekarang sedang bersamamu dan tidak membuat orang-orang di tempat umum menyumpahimu yang terlalu kebelet update?

Jika iya, maka kamu lulus! Sudah bisa menggunakan media sosial dengan benar, tahu hal apa yang perlu di share di sana dan kamu bukan orang yang suka berdrama yang ingin memiliki penonton tidak jelas yang menjelek-jelakkanmu jelas-jelas!

Ada percakapan dengan adikku yang sampai sekarang membuatku teringat untuk tidak terlalu sering-sering memposting foto selfie di internet;
“Kamu punya instagram, dek?”
“Buat apa?”
“Ya buat share poto-poto.”
“Buat apa? Buat banyakin like? Banyakin love? Banyakin komen? Nambah pengikut gak jelas yang cuma tertarik sama wajah? Buat apa? Kakak~~ kakak~~” menggeleng-gelengkan kepalanya sambil nyengir, “oper saos tomat dong.”

***
Nahdiana Dara

Gadis berumur kepala dua. Selalu suka menulis hanya untuk melarikan diri sampai menemukan jati diri.

0 comments:

Post a Comment