Saturday, 16 February 2019

Tema Kita Cinta

Di antara rindu yang tak sampai..
Kujaga rasa jangan sampai usai..
Di balik cemburu yang tak tahu malu..
Ada keinginanku ‘tuk selalu menjaga selamatmu..
Di celah tiap-tiap perkara dunia..
Panggil saja, aku akan ada dan setia

Foto via Pixabay

“Sepatah dua patah kata tentang cinta, dong.”

Oh, jadi tema wawancaranya cinta, ya? Masalah paling rumit, nih. Mending matematika, masih ada rumus yang bisa dipelajarin. Lah, cinta?! Seseorang bergelar doktor sekalipun belum tentu paham betul tentang cinta dalam hidupnya. Rumit deh, pokoknya. Dapat menguras energi lahir batin si pelaku. Aku juga sih, sebenarnya—dulu. Iya dulu. Waktu aku dan dia masih.. Ah udah, ah. Sedih kalo diceritain. Lanjut topik utama aja, yah?

“Oke, deh. Nah, orang-orang, kan udah pada tahu bahwasannya jatuh cinta itu rumit, lebih rumit dari matematika, lalu kenapa masih aja ada orang yang mengulanginya tiap detik di seluruh dunia ini? Kenapa masih banyak orang memilih jatuh cinta dan sakit hati berulang kali? Kenapa nggak bahagiain diri sendiri aja? Kenapa?!”

Karena jatuh cinta itu asik.

“Loh, kok asik? Bukannya pelik?”

Asik, dong.

Bisa terbayang-bayang wajahnya, senyumnya, suaranya, dan hal-hal lain tentang dia pas lagi mau tidur. Bisa chattingan pagi-siang-malam sama dia hanya untuk bahas hal-hal aneh yang sebenarnya nggak penting-penting banget. Diingetin makan, diingetin sholat, disemangatin ujiannya pake’ emoticon merah hati. Asik, kan?

Ketawa bareng sama dia. Jalan-jalan sama dia. Foto bareng sambil senggol-senggolan abis itu upload ke sosial media pake’ caption romantis. Udah ngerasa asik, nggak?

Ngambek ke dia, pura-pura marah biar di manja. Cemburu misalkan dia denger-denger main berduaan sama teman beda gender. Netesin air ketika ada kata-katanya dia yang bikin sakit. Nah, disini cinta mulai pelik, namun tetap, asiknya itu belum hilang.

“Iya, sih. Tapi nggak semua orang itu berhasil mendapat tempat di hati idamannya. Nah, asiknya dimana? Cuma pelik, kayaknya.”

Jangan salah sangka dulu. Bagi golongan ini, golongan yang cintanya tak terbalas, justru rasa asiknya itu lebih unik. Lebih hebat dan lebih bikin perasaan terombang-ambing dibanding pasangan lain yang udah bahagia.

“Loh, gimana ceritanya?! Toh, dia pasti dicuekin dan nggak dianggap. Kok bisa dia ngerasa asik dengan cintanya?”

Karena orang-orang yang memperjuangkan cintanya di jalan ini memiliki semangat dan harapan yang lebih suci dibanding yang lain. Dengan perjuangan yang jauh lebih hebat dibanding orang-orang, sudah dipastikan rasa puas ketika cintanya terbalas itu akan jadi lebih indah dan megah. Upaya bertahan melawan ketidakpedulian si dia adalah adalah keasikan tersendiri yang takkan didapatkan oleh pasangan biasa. Adrenalin dan rasa penasaran mereka akan dipacu setiap harinya. Dari bangun hingga tidur lagi.

“Bagaimana kalau harapan yang digantung setinggi langit malah gagal diraih? Bukankah bisa depresi?”

“Kalo masalah depresi, tenang saja. Biasanya, orang-orang yang berjuang sendirian itu mentalnya kuat—tahan banting dan guncangan. Toh, dari ke hari emosinya sudah di aduk-aduk setiap kali diabaikan oleh si idaman. Dan dari situ, mereka belajar kuat. Mereka belajar memaklumi dan menerima. Mereka belajar untuk menghargai arti sejati dari komitmen dan konsistensi.

“Bagaimana kalau begini, andaikata skenario terburuk terjadi pada mereka yang berjuang sendiri, contohnya, si idaman tiba-tiba menikah dengan orang lain. Apa tidak depresi juga?”

“Tidak. Karena aku merasa aku ada dibarisan mereka, maka aku menjawab tidak. Menjadi pihak yang mencintai walau terus disakiti itu berat. Hanya orang-orang kuat yang mampu terlibat di dalamnya selama mungkin. Dan tentang skenario terburuk yang kamu bilang, anggap saja itu terjadi. Lalu apa? Mereka depresi? Tidak. Mereka bahkan sudah menyadari skenario ini sejak lama dan mereka membiarkannya. Mereka sudah terbayang hal ini sejak lama dan mereka tetap tak peduli ataupun memilih pergi. Kenapa? Karena mereka diciptakan dengan hati yang mensakralkan cinta. Membohongi diri sendiri dan melangkah pergi berarti mencoreng kesucian cinta itu sendiri. Mereka sudah berjanji untuk ada dan mereka akan melakukannya selagi mereka bernyawa.

“Yaudah, deh. Hanya saja, kadang aku kesal ngeliat orang-orang yang dengan bodohnya mencintai sosok yang sama sekali nggak peduli. Aku kasihan sama mereka. Mereka orang-orang baik dan tulus, bukankah harusnya ada yang lebih baik untuk mereka puja tanpa menyia-nyiakan waktu dan tenaga?”

Kamu tenang aja. Mereka itu kuat. Kami itu kuat. Kami tidak mundur selama itu bukan kemauan kami sendiri. Masalah tentang kasihan atau kesalmu, cobalah hilangkan itu. Kami tahu apa yang kami lakukan dan kami lebih tahu apa akibat dari tindakan itu. Terima kasih untuk rasa khawatirmu. Semoga kamu disukai oleh salah satu orang di golongan kami. Kamu harus tahu seperti apa rasanya dicintai oleh orang ‘gila setia’ seperti kami.

“Jadi takut, nih. Tapi boleh, deh, dicoba. Emang ada yang lagi kosong?”

Ada, kok yang lagi kosong. Emangnya kamu mau?

“Boleh dicoba.”

Yaudah. Aku orangnya.

“Ahaha.. Kamu yakin mau mencintai aku walaupun aku nanti nggak peduli?”

Beri aku masa uji coba.

“Baik. Mau berapa lama?”

Hmm.. Kira-kira.. Seumur hidupmu.

Jika cinta berarti tertawa
Maka pisah berarti menangis
Bagiku
Tak peduli itu cinta ataupun pisah
Selama itu denganmu
Aku akan selalu tertawa

***
Muhammad Fahreza


Namaku Muhammad Fahreza. Lahir di rumah tanggal 24 April sembilan belas tahun yang lalu. Sekarang tinggal di rumah, tepatnya di Pantai Cermin, Serdang Bedagai, Sumut. Jenis kelamin laki-laki—sudah jelas. 

0 comments:

Post a Comment