Saturday, 16 February 2019

Untuk Diriku Dimasa Depan

Untuk diriku dimasa depan, waktu memang satu-satunya hal pasti. Dia tidak mau berkompromi barang sedetikpun. Bahkan aku belum mewujudkan wish listku ditahun 2018 tetapi waktu tidak mau bersabar sedikit saja. Tahu-tahu sudah bulan desember.  Ahhh kenapa cepat sekali dia bergerak? Atau jangan-jangan aku yang hanya berputar pada porosnya seperti bianglala. Merasa sudah melakukan banyak hal tetapi masih saja stuck di tempat. Salah satu prioritas yang harus direnungkan dimasa depan. 

Foto via Pixabay

Untuk diriku dimasa depan, percayalah jalan tidak akan mudah tetapi bukan alasan untuk cepat menyerah. Akan selalu ada rintangan yang terduga maupun tak terduga. Tetapi jangan terlalu cemas tetap langkahkan saja, yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Jangan pernah lupa bahwa ada kemungkinan terburuk. Memang kita harus selalu memandang hidup dengan positif tetapi bukankah lebih baik untuk mempersiapkan segala yang akan terjadi sejak dini, termasuk kemungkinan terburuknya? 

Untuk diriku dimasa depan, jangan pernah lelah menuruti kata hati. Aku tahu mungkin otakmu sudah lelah berpikir terus, hatimu sakit menerima segala kenyataan pahit, matamu terlalu letih harus melihat segala kegagalan lagi dan lagi, kakimu juga terlalu pegal untuk terus melangkah tanpa tujuan yang jelas. Aku tahu, aku sangat paham. Tetapi bukankah kita sudah berjanji untuk berjuang sampai akhir, sama-sama? Bukankah kita sudah terlalu jauh melangkah? Pejamkan matamu katakan belum saatnya untuk menyerah, semua pasti akan baik-baik saja. 

Untuk diriku dimasa depan, berdamailah dengan masal lalu. Tinggalkan segala yang telah berlalu. Tetapi jangan pernah dilupakan cukup berdamai saja. Sulit itu pasti tetapi percaya bahwa Allah telah menyiapkan segala yang kita butuhkan. Ikhlaskan dia yang telah pergi. Karena sesungguhnya bukan dia yang memenangkan hatimu. Ada seseorang yang jauh lebih pantas yang akan datang tepat pada waktunya. Bukan dia orang yang tepat untuk merangkai cerita bersamamu sampai akhir. Maka berdamailah. Mulailah merangkai cerita yang baru. 

Untuk diriku dimasa depan, bukankah dunia ini begitu luas. Bukankah sudah saatnya kamu memenuhi panggilan jiwamu sendiri. Aku percaya kamu mempunyai keberanian untuk melakukannya. Berhenti mencemaskan apa yang akan terjadi. Lihatlah dunia ini begitu luas. Tidakkah kamu ingin membangkitkan cita-cita yang telah lama kamu kubur hanya karena kecemasan. Percayalah itu tidak akan pernah adil buat dirimu sendiri. Cukup hadirkan kembali keberanian itu. Jangan bunuh dia lagi, biarkan dia tumbuh. Bukankan sudah aku ingatkan untuk berdamai, termasuk kepada dirimu sendiri. Bagaimana mungkin Allah akan memberikan cita-cita itu kepadamu, ketika kamu sendiri saja tidak pernah mempercayai hatimu dengan penuh?

Untuk diriku dimasa depan, apakah kita dilahirkan hanya untuk sekolah, kerja, dan menikah? Aku rasa sudah saatnya kamu mulai merenungkannya. Aku tahu kamu selalu mencari jawaban itu. Tetapi kamu belum benar-benar mendapatkannya. Terlalu banyak kepingan puzzel yang belum terangkai. Jangan pernah menyerah, ikuti kata hati karena dia tahu apa yang kita mau. Percaya banyak alasan yang terus membuat kita berjuang. Mungkin kamu belum memahaminya saat ini, tetapi waktu akan menjawabnya. 

Untuk diriku dimasa depan, jangan pernah melupakan orang-orang disekitarmu, apapun yang terjadi. Terutama kedua orang tua. Selalu luangkan waktumu sebentar saja untuk menemani mereka mengobrol tiap hari. Jangan jadikan jarak sebagai alasannya. Ingatlah kamu tidak hidup di jaman purba. Mereka tidak hanya membutuhkan uangmu saja, waktumu jauh lebih berharga untuknya. Mereka yang telah membunuh mimpi sendiri untuk membesarkan kamu. Aku paham, kamu telah mempunyai kesibukan sendiri. Apakah terlalu sulit memberikan waktumu satu jam saja untuk menghubunginya? Bahkan Allah memberikan waktu 24jam dalam sehari, hanya 1 jam tidak lebih. Tidakkah kamu tahu bahwa dia benar-benar kesepian?

Untuk diriku dimasa depan, jadilah pribadi yang selalu intropeksi diri. Dimanapun dan kapanpun itu. Kita hanya manusia biasa yang banyak melakukan kesalahan. Masih jauh dari kata sempurna. Karena dalam hidup selalu ada titik dimana kita tidak bisa menahan segala emosi, akan ada saatnya kita marah, dan akan ada saatnya kita melukai orang lain. Aku sungguh paham keadaan itu, tetapi aku mohon tetap intropeksi diri. Kita tidak akan pernah bisa memahami seutuhnya perasaan orang lain. Karena pada dasarnya semua manusia bersifat egois. Tetapi dengan introkpesi diri kita akan selalu belajar dari sebuah kejadian. Entah itu baik atau tidak akan selalu ada pelajaran hidup yang bisa kita ambil.

Amin. Semoga segala yang dimimpikan segera terwujud. Tetapi biarlah pelan-pelan saja, karena aku masih sanggup berjuang.  Begitupun perubahan yang sebenar-benarnya adalah yang memperlukan waktu dan proses yang lama tidak dapat diraih dalam satu malam. Ingat saja segala yang kita lakukan tidak pernah ada yang sia-sia. Semesta selalu mencatatnya. 

***
Nofi Triana Kuspitasari

Alamat : Yogyakarta

Email:nofitriana96@gmail.com


0 comments:

Post a Comment