Saturday, 16 February 2019

Wawancara


Hampir setahun aku nganggur. Sejak lulus Sarjana, semua lowongan kerja yang kuikuti selalu gagal. Semua ditolak. Perkaranya sama, gagal saat wawancara. Aku sempat pesimis. Kalau saja Monang tak menasehatiku, sudah kupilih jalan melunta berjualan kain rombeng, sebagaimana isi kepala Emak sejak aku lahir.

Foto via Pixabay

“Mungkin kau kurang pd saat jawab pertanyaan” Koreksi Monang suatu hari.

Ada benarnya ucapan Monang. Di wawancara kerja pertamaku di sebuah perusahaan investasi internasional, mentalku sedikit kacau. Kakiku sempat bergidik sewaktu interviewer menanyakan; apa yang bisa kubaktikan kepada perusahaan sekiranya diterima.

“E, e, e, sa-sa-sa-saya, e, e, e, saya akan bekerja semaksimal mungkin” Jawabku, megap-megap bagai dikepung tentara satu batalyon.

PK-ku 3,60, bahasa Inggrisku lumayan, aku sempat berpikir bakal diterima. Apalagi seorang interviewer sempat menanyakan berapa gaji yang kuminta seandainya sembilan puluh sembilan kandidat lainnya nyata-nyata bisa kusingkirkan.

“Sembilan juta” Kali ini jawabanku tegas. Karena ke enam pewawancara seketika melotot—seorangnya bahkan sempat terbatuk.

“Tujuh juta juga cukup” Ralatku sekenanya.

Dan aku pun ditolak.

Maka setelah kupikir-pikir, Monang tak keliru. Sudah pd tak punya, otak pun tak punya. Masa menuntut gaji setara Manager? Maka sekarang aku mulai rasional soal gaji. Masalahnya, bagaimana mengatasi ke pd an itu. Aku konsultasi ke Monang.

Monang punya tiga resep, pertama; aku harus tenang saat wawancara. Kedua; aku harus menatap lawan bicara saat wawancara. Ketiga,

“Kau baca buku ini” Monang mengulurkan buku berjudul ‘Kiat-Kiat Menaklukan Wawancara Kerja’ ke tanganku. Tebalnya 231 halaman. Lebih tebal dari kitab suci Al-Quran di rumahku.

“Di buku ini, masih ada ratusan kiat-kiat yang bisa kau pelajari” Terang Monang menambahkan.

Seleraku hampir patah mendengar ‘ada ratusan kiat-kiat’, bukannya tiga seperti omongannya. Mataku bisa bengkak membacainya. Terpikir betapa sakitnya perasaian menjadi pengangguran—sarjana pulak, Oh, kuikuti pulalah anjuran Monang. Sembari mengajukan lamaran, dua pekan kubaktikan waktu mempelajari ‘Kiat-kiat Menaklukkan Wawancara Kerja’, buku si Monang. Semangatku perlahan tumbuh. Waktu salah satu perusahaan Marketing di Bandung, memanggil untuk wawancara, aku sudah siap seratus porsen.

Menurut isi buku, seorang pencari kerja butuh lebih dari percaya diri untuk menaklukan wawancara. Si kandidat butuh wawasan mendalam tentang pekerjaan yang akan digelutinya. Wawasan. Karena pekerjaan ini menyangkut marketing, mudah kurasa. Jurusanku sendiri Ekonomi, jangankan Marketing, dari yang makro hingga yang mikro, semua teori ekonomi dari yang klasik hingga renaissence sudah kujejali semenjak semester lima. Jadi, mengapa pulak aku merasa kurang pd dengan wawasan ‘kemarketingan’ ku? Hek, tidak akan! Tapi aku tak mau anggap enteng. Kubacai pulalah perkembangan pasar di surat kabar buat bekal tambahan menghadapi wawancara.

Tetapi malang nasibku, aku ditolak lagi.

Kuteliti benar apa sebabnya. Seingatku, aku menjawab dengan baik seluruh pertanyaan. Bicara pd, sudah kuamalkan betul ajaran si Monang. Bahkan ilmu ikutannya di dalam buku yang mengajarkan pd harus didukung penampilan yang menawan dan rapi, pun sudah kukerjakan. Kemeja satin dan dasi merah miliknya sengaja kupinjam untuk menghadapi wawancara. Jangan tanya bagaimana aku menjawab pertanyaan para pewawancara menyangkut wawasan marketing, semua kulahap dengan enteng. Tak ada gagap. Ketika seorangnya menanyakan, punya siasat apa kau mengakali perusahaan tak merugi akibat daya beli masyarakat yang menurun, dengan mantap kujawab; perusahaan sebagusnya mengurangi ongkos produksi, caranya, menurunkan sedikit kualitas produk, memberhentikan beberapa karyawan yang kurang produktif—kriterianya bisa dilacak dari usia, catatan kerja, assesmen HRD—tujuannnya untuk menekan harga jual.

“…dengan begitu daya beli masyarakat perlahan akan pulih dan perusahaan terhindar dari rugi” Jelasku mantap, sebagaimana ajaran teori biaya produksi yang kupelajari di bangku kuliah. Tak kupakai kaidah-kaidah Marxis soal ini. Naluri kelas bawahku bahkan kulangkahi. Mudah sekali, bukan.

Pewawancara sempat mengangguk-angguk. Seorangnya sempat menagih komitmenku agar selalu siap ditugaskan sewaktu-waktu ke luar negeri, ke luar kota, tak terkecuali ke desa-desa, sekiranya diterima.

“Asal tak keluar angkasa saja, Pak” Humorku menyetujui. Aku ingat betul humor ada di bagian kesekian buku kiat-kiat menaklukan wawancara, ilmu peganganku.  Pewawancara tertawa ringan. Mereka memuji sikap tenang dan humorku yang renyah saat wawancara. Hafal betul aku, bukankah pujian masuk bagian kesekian dari sekian kesekian kiat-kiat menaklukkan wawancara? Sanubariku bergolak. Ya, pasti, pasti, pasti aku diterima! Mak, bakal kutebus cicilan kreditmu di koperasi.

Faktanya aku malah ditolak. Apa sebab? Ternyata biangnya adalah si Piter, sainganku. Tak ada yang istimewa dari dia. Salah satu pewawancara sempat membocoriku alasannya. Katanya, konsepku tentang strategi mengakali perusahaan agar tak merugi akibat daya beli masyarakat yang menurun dianggap beresiko. Masalahnya, gagasanku untuk mem PHK beberapa buruh dan menurunkan mutu produk demi mengecilkan ongkos produksi, disebut sebut sama artinya aku menyeret perusahaan menghadapi disput berkepanjangan. Membikin lari konsumen.

“Itu lebih buruk dari daya beli masyarakat yang menurun. Alias perusahaan bisa bangkrut” Ungkapnya  padaku. Aku kesal, kutanyakan pula apa yang menjadi gagasan si Piter hingga konsepku dianggap tak lebih baik darinya.

“Sama sepertimu. Tapi hebatan kau, dia berkeringat saat menjelaskannya.”

“Lalu kenapa dia yang diterima, Buk?”
“Pamannya komisaris disini.”

Yang namanya nepotisme itu memang setan semua!

Dan ini kali ke empat lamaranku ditolak.

Aku jadi ahli menerima penolakan. Dan sudah adatku pula berkonsultasi ke Monang. Seperti biasa, ia memberiku resep. Sempat Monang beranggapan mungkin aku tak mengamalkan persis isi bukunya. Kutampik. Kuceritakan kemudian kalau soalnya adalah sainganku itu keponakan salah satu komisaris.

“Oh” Sahutnya maklum.


“Tapi kau tak boleh menyerah, Met. Cuman selangkah lagi. Masih banyak lowongan yang betul-betul nyari skill dan kemampuan” Ujar Monang membesarkan hatiku.

Saran Monang memberiku tenaga. Kumasukkan lagi lamaran kerja. Kali ini ke badan pemerintahan. Kuikrarkan betul dalam hati, tak bakal aku gagal kali ini! Toh, poisisi pekerjaannya hanya honorer di Dinas Pariwisata. Meski begitu, aku tak mau menurunkan grate kualitasku saat wawancara. Kuulangi lagi membaca buku ’Kiat-Kiat Menaklukan Wawancara Kerja’. Kuperdalam praktiknya dengan Monang. Sekali waktu, Monang memintaku berlatih di depan cermin. Dilain waktu ia memberiku kumpulan video tentang Public Speaking. Ada juga di antaranya panduan yang mengupas teknik berargumentasi. Kata Monang, buat mendadar kemampuan persentasiku.

Semangatku bangkit. Lebih-lebih karena pesaingku cuman berempat, peserta cuman lima orang. Kupikir itu karena masalah gaji yang ditawarkan. Tapi tak masalah bagiku. Aku capek dibulan-bulani Emak. Aku sudah diultimatum, kalau sampai masih tak dapat kerja.

“Kau jualan kain rombengan saja” Tegas Ibu suatu hari.

Sarjana ekonomi jual kain rombeng? Tidak, tidak mungkin. Apa guna ilmu yang kutuntut kalau ujung ujungnya harus berakhir bersileweran di perapatan kaki lima sambil menjajakan kain belacu bekas pakain turis? Sudah untungnya tak seberapa, itu pun mesti rela dibagi dua. Ini pula yang menebalkan tekadku melamar di Dinas Pariwisata itu.

Seperti biasa aku menjalani wawancara dengan lagi-lagi mantap. Sangkin mantapnya, ke tiga pewawancara bertepuk tangan saat aku memberikan closing statement yang lagi-lagi mantap—semantap panduan video teknik berargumentasi pemberian si Monang.

“Andalah mungkin orang yang kami cari” Kata seorangnya yang berseragam kuning—seingatku semua berseragam kuning. Yang lain mengikuti sambil menyalamiku, seakan-akan tiket pekerjaan itu sudah diserahkan padaku. Dan memang demikianlah adanya menurut sms yang kuterima esok harinya.

Akhirnya, setelah hampir setahun, berkantor juga aku. Teringat kesusahan selama ini, aku melonjak girang. Kupeluk Emak erat-erat. Kucium keriput tangannya, keningnya, kakinya. Pukul 08.00 pagi kuterima kabar itu. Segera pula kuteruskan kabar itu kepada Monang. Setelah Emak, dia berhak menjadi orang ketiga yang mendengarnya. Kalau bukan karena dia, mana mungkin aku ketemu buku ‘Kiat-Kiat Menaklukan Wawancara Kerja’, video tentang Public Speaking dan Teknik Berargumentasi itu. Semua resep-resepnya telah membantuku diterima bekerja. Tapi hari itu dia masih di Tanggerang, lusa baru pulang.


Di dekat tetangga, tak sekali dua kali Emak berkata padaku supaya gaji pertamaku nanti dibelikan motor. Emak juga minta dibelikan kerudung, cincin tembaga, hingga mengganti perabot rumah yang sudang usang dan lapuk. Meski sudah kuberitahu kalau gaji sebulan atas pekerjaan yang belum kuterima bulat-bulat itu cuman sekali ongkos naik pesawat kelas ekonomi ke Papua, tetap Emak menuntutku supaya melunasi utang koperasinya, menyisihkan sebagian untuk kaum dhuafa, lalu sisanya, ditabung demi mempersiapkan sebaik-baiknya masa depanku yang gemilang. Mak, anakmu hanya seorang penjaga Museum!

Pukul 12.30, orang yang mengabariku kabar kelulusan wawancara menghubungiku lagi. Jelas ini tentang informasi pembekalan yang akan kujalani sebagai penjaga Museum. Kuangkat telepon. Baru dua menit, keningku mengerut, bibirku sumpek, dan sepersekian detik, keluar sudah seisi kebun binatang Ragunan dari mulutku.

“Akan kulapor kalian semua ke KPK. Binatang jahannam.”

Mungkin ia takut atau tak tahan mendengar serapahku, telepon ditutup.

Bagaimana aku tak marah, hanya untuk pekerjaan hansip museum aku disuruh menyerahkan sejumlah uang untuk membasahi paru orang berpangkat yang mengaku berkuasa memutuskan nasibku sekalipun sudah lulus wawancara. Kalau tidak, pekerjaan yang nyata-nyata sudah kumenangkan itu bakal dialihkan ke kandidat lain. Katanya, yang lain sudi membayar.

Aku sakit hati. Benar-benar sakit hati. Berapalah uang sejuta, Emak bisa mengadakannya dalam beberapa hari dengan meminjam ke sanak famili. Tapi menyogok ? buat pekerjaan jadi satpam museum, pulak ? Maaf, tak ada itu dalam kamus hidup keluargaku. Tapi kalau jadi Manager, aku masih bisa berpikir.

Aku sempat beranggapan ini hanya akal-akalan orang di Dinas Pariwisata saja. Menembak di atas kuda. Toh, aku sudah lulus wawancara. Tapi namanya Indonesia Raya, semua boleh terjadi. Alhasil penyakit itu memenangkan seorang desertir tentara, bekas napi narkoba. Tak mau tahu aku berapa ia bayar untuk dihina sehina-dina demi pekerjaan itu.


Sakit kalang-kalangku mengingatnya. Emak bisa menerima alasanku mengapa pekerjaan penjaga museum yang sempat dielu-elukannya itu tak jadi kudapatkan. Sempat ia mogok ngerumpi dengan teman-teman sejenisnya. Kasihan aku nengok emak. Tapi lebih kasihan lagi diriku saat ini. Sekali kesempatan Emak berusul aku ziarah ke kuburan Bapak, siapa tahu gegara itu nasib sial selalu menyambangiku. Kuangguki usulan Emak. Meski dalam hati aku mendecit, apa urusan orang meninggal dengan nasib yang membelitku ini? Jelas-jelas biangnya korupsi, nepotisme.

Tak patah aral. Kutemui Monang, minta petunjuk. Kudengar dia sudah pulang. Baru sampai di kamarnya, wajah Monang terlihat sumpek, rambutnya acak, tapi pakaiannya rapi. Telapak kakinya masih tersangkut kaus kaki kusam. Dia duduk di lantai sambil merokok.

“Aku gagal lagi Met,..”

“Ini yang kesepuluh” Keluhnya.

Aku kaget. Sempat ingin kujuduli ‘Dua Pengangguran’cerita ini. Tapi Monang keburu ngomong, pekan depan dia mau wawancara lagi. Aku juga.

***

Ucok Barus

Kunjungi : www.ucokbarus.com

0 comments:

Post a Comment